Mimpi Ummi

    Author: Najmatul Jannah Genre: »
    Rating


    Membaca catatan Mbak Jazimah Al - Muhyi membuatku tersentil... Ah tidak, lebih dari tersindir tepatnya. Kecuali pada bagian penulis terkenal yang padat agenda semasa lajang dan kepiawaiannya dalam menulis tentu saja (hahaha), aku merasakan persamaan kisah dengan Beliau.





    Bahwa pernikahan dan memiliki anak di usia muda, (tadinya) bukanlah target utamaku selepas kuliah.





    Trauma ?? Well, I not think so. Untuk apa? Masing - masing orang mempunyai Penjaga Kisahnya. Namun yang tak kalah penting, kita juga berhak berhikmah atas kisah tersebut, lantas mengurainya menjadi garis hidup yang paling sesuai dan optimal bisa diusahakan. Weiissss... Beribet banget bahasanya hehehe...





    Terlalu banyak menjejali diri dengan kriteria 'prototype seorang Pemuda Muslim'? Ah, nggak juga. Justru dulu Ibunda sering menganggapku skeptis terhadap laki - laki, hingga ketakutan Beliau terlontar tatkala ide 'pelarian diri' itu muncul. Aku sempat ingin kuliah S2 dulu dan baru memikirkan pernikahan di atas usia 25 tahun. Mungkin, itu tidak linear dengan sejarah pernikahan usia muda yang Beliau lakoni di masa lalu hehehe...





    Atau, ini tentang loyalitas? Penantian atas sesosok figur? Hahaha.... Aku memang seorang melankolis sanguinis, tapi bukan penggemar fatamorgana. Pada akhirnya kutemukan 'sisi cermin jodoh' dengan Mas Ahmad beberapa waktu kemudian. Kami sama - sama memiliki masa lalu yang kompleks, namun menjadikan lebih bijak merajut langkah ke depan.





    Lantas apa?





    ===000OOOO000===





    Mungkin, setelah kuuraikan sendiri, ini tentang 'kenyamanan kita' terhadap wilayah mandiri semasa lajang. Well, inilah bagian persamaanku dengan Mbak Jazimah. Jika tentang memiliki suami, mungkin aku masih memiliki banyak perbendaharaan kata cinta serta attitude kewanitaan khas yang tak usah terlalu banyak dieksplorasi (haha, sekali lagi karena keromantisan seorang melankolis). Namun, tidak dengan mengasuh anak.





    Aku tak suka anak - anak, berlama - lama, apalagi mengasuh mereka. Utamanya bayi. Ini terbukti ketika adik ketigaku lahir. Rafif nyaris tak dekat denganku pada 5 tahun pertamanya. Mungkin aku bisa berdalih, karena ketika itu sedang kuliah. Namun, tatkala cuti di rumah, kebersamaan itu hanyalah jalan - jalan ke toko berdua dengannya atau kadang menyuapi Rafif makan saja. Selebihnya, jangan harap Rafif bisa memasuki kamarku dengan leluasa. No! It was very annoying for me!





    Sungguh berkebalikan dengan Ayik, adik keduaku. Dia malah lebih bisa berperan sebagai kakak bagi Rafif. Ayik jauh lebih tomboy dan cuek daripada aku, tapi naluri keibuannya malah lebih bersinar.





    Makanya, mungkin bisa dimengerti sekali (idih, maksa hehe), jika aku mendambakan sosok pendamping yang pendiam, kalem dan pecinta anak - anak. Ya.. ya... aku tahu ini egois sekali. Tapi, setelah berbagai kekhawatiran dan jerih payah Ibunda mencarikanku jodoh ( aih, manja banget pake dicariin segala...hehe..biarin :p ), kasihan juga kalau sampai Beliau melihat cucunya diasuh oleh ibu tak becus sepertiku.





    Setidaknya, jika aku tak bisa dan tak terampil mengasuh anak, tapi suamiku mencintainya sepenuh hati.





    Eits! Tunggu dulu! Ini belum tentang 'kemahiranku' di dapur. Dulu, aku lebih memilih aktivitas mencuci piring, menyapu dan menata perabotan rumah saja daripada harus berpusing - pusing menghafalkan bumbu dapur dan berbagai menu itu. Sekali lagi, Ayik tampil berbeda. Bisa kurasakan binar mata bahagia Ibu kala berhasil mendidik Ayik sebagai wanita sejati..haha.. Sungguh mengenaskan!





    Di usia yang hampir sebaya (kami hanya berjarak 2,5 tahun saja), namun kemampuan 'chef' antara aku dan Ayik malah berkebalikan. Kala aku masih bingung bagaimana caranya menanak nasi (gak pake magic jar loh!), Ayik malah sudah bisa membuat sayur santan sekaligus sambal terasi sedapnya. Kala aku sibuk menggoreng tempe hingga gosong dan selalu gagal membuat sayur sop yang pas takaran bumbunya, Ayik mempesona dengan berbagai varian lauk itu. Hingga aku tampil begitu konyol, karena tiap kali Ibu mengamanahi kami berdua memasak bersama saat Beliau harus keluar kota atau sibuk dengan tugasnya sebagai guru, aku memasukkan bumbu - bumbu itu di bawah arahan dan panduan Ayik.





    Makanya, tatkala seorang Ustadzah menyatakan niatnya untuk memproses diriku dengan seorang pemuda, dalam hati ku berkata, "Ya Allah, aku yakin yang Beliau ajukan itu adalah sosok shalih dan sabar. Tapi aku mohon pada Mu ya Allah... Semoga kelak sosok ini juga menerimaku apa adanya. Semoga dia juga bersabar karena aku masih saja tak pandai membuat sayur kesukaanku sendiri. Juga, semoga dia gak doyan pedas, karena asli sambal buatanku gak enak banget!"





    ===000OOOO000===





    The Wedding Day... Oke, Alhamdulillah kami berhasil melewatinya. Bukan tanpa masalah, bahkan hingga beberapa bulan setelah pernikahanpun, adaptasi - adaptasi itu tak pelak sering memberi warna tersendiri bagi kedewasaan kami. Namun, aku yakin, bahwa pernyataan do'a Mas Ahmad padaku, "Ana uhibbukifillah" itu yang kemudian menyejukkan sekaligus menguatkan kami berdua.





    The Harmony.... Ternyata, do'a itu terkabul! Alhamdulillah, hingga sekarang, Mas Ahmad tak (berani) kecewa dengan berbagai masakan pribadi yang kusuguhkan padanya. Bahkan, aku nyaris terbang ke awang - awang, kala kerap dia dengan tulus minta kuajari cara membuat nasi goreng ataupun omlet mie kesukaannya hahaha... Padahal, menurut Ibu dan adikku, rasanya biasa saja! Alhamdulillah pula, Mas Ahmad gak doyan pedas, tidak untuk sebiji lombok pun! Well, tapi aku tak berpikir bakal rugi kala tetap 'kursus' ke Ibunda membuat berbagai varian sambal sedap itu..



    The Gift... Ini yang paling sulit. Aku kuat menghadapi masa kehamilan kala mengandung Aiko. Betapapun beratnya saat - saat ketidakberdayaan karena 'emesis' itu, sugestiku yang kuat selalu bisa 'memaksa' untuk tetap makan dengan porsi lebih banyak dan beramal yaumiah lebih berlipat dari biasanya.



    Akan tetapi, tiap saat, muncul kekhawatiranku. Bagaimana kelak setelah masa persalinan? Apakah aku mampu menjadi Ibu yang baik untuk bayiku? Terlalu jauh jika ingin menyamai Ibunda, tapi setidaknya, aku ingin memberikan yang terbaik untuk si kecil kelak.





    Dan ternyata, benar saja... Hingga dua minggu setelah persalinan, Bapak dan Ibu sampai menginap di rumah kami untuk bergantian berjaga mengganti popok Aiko. Aku melahirkan secara normal, bisa kurasakan banyaknya jahitan pada jalan lahir itu. Sungguh perih untuk bergerak sedikit saja. Aku yakin, semua yang melahirkan secara alami pernah merasakannya, walaupun tidak semua mengalami proses penjahitan itu.





    Bapak dan Ibu tampaknya sangat memahami adaptasiku sebagai First time Mother. Maka bergantian dengan Mas Ahmad, mereka merawat Aiko tiap malam. Bahkan, aku begitu dimanja, karena hanya dibangunkan kala Aiko minta minum ASI saja.





    Pagi harinya? Sama saja. Aku masih ketakutan untuk memandikan dan mengganti baju Aiko. Kalau mengganti popok saja masih bisa, tapi melepas dan mengganti atasannya?... Aww!!! Aku khawatir dengan gaya serampangan yang bisa menyakiti bayi mungil itu.





    Hingga kapan ini berlangsung? Dua bulan! Ya, baru dua bulan kemudian aku berani memandikan dan mengganti baju Aiko. Baru dua bulan kemudian aku berani menggendong Aiko tanpa bantuan siapapun. Juga, ketika Mas Ahmad mabit bersama teman - temannya selama dua hari kala Aiko berusia tiga atau empat bulan, aku sudah berani menolak tawaran Ibu menemaniku merawat Aiko... Walaupun, ujung - ujungnya di tengah malam, Mas Ahmad masih gak tega dan menjenguk kami berdua beberapa jam lamanya hehehe...





    Ibunda banyak tertawa miris melihat caraku mengasuh Aiko. Menggendongnya dengan gaya yang masih sangat canggung, mengganti popok dengan cekidah cekidih, hingga memandikan dengan kaku sekali. Bahkan Bapak sampai berang tatkala Beliau tahu aku tak sengaja membuat Aiko 'menggelundung' dari tempat tidurnya dan 'nyungsep' di bak yang memang kusiapkan sebagai penampung pipisnya tiap malam. Huhuhu... Aiko cantikku nyemplung ke air pipisnya sendiri. Aku menangis berjam - jam ketika itu, menyesali kebodohan dan ketidakbecusan sebagai Ibu.







    Bahkan, dengan ketidakpiawaian sebagai seorang Ibu ini, kadang tersimpan kejenuhan. Mungkin memang benar, tidak akan pernah ada kata siap pada sebuah pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Yang ada hanyalah kemampuan hati dan jiwa untuk beradaptasi dengan proses pendewasaan.





    Masih sempat saja aku tertekan karena tak bisa melakukan aktivitas yang sudah menjadi nafas dalam keseharianku senyaman dulu. Menulis (walaupun ecek - ecek) dan membaca. Juga minatku pada aktivitas hang out. Meskipun aku tidak terlalu suka keluar rumah, tapi setelah melahirkan, tiba - tiba aku selalu ingin rekreasi, kemanapun.





    Meskipun jenuh dan kerinduan menulis serta membaca begitu mengakar, tapi tidak bisa mengurangi kadar perhatianku pada Aiko. Aku sukses memberikan ASI eksklusif 6 bulan tanpa bantuan makanan pendamping atau susu formula. Aku sukses pula menjadikan Aiko mandiri hingga jarang ngompol dan lepas dari dotnya di usia 2,5 tahun, beberapa bulan setelah penyapihannya.





    Aku tidak melarikan diri dari semua tanggung jawab itu. Hanya saja, aku merasa jenuh. Hingga mungkin kejenuhan penat itu terbaca oleh Ibu dan suamiku. Nasehat senada mereka kemudian menyadarkanku.





    Bahwa, aku takkan bisa mengganti saat - saat bersama Aiko dengan momen apapun. Dan, ternyata, justru saat - saat di periode emasnya inilah (0 - 3 tahun) yang paling berharga untuk Aiko sekaligus paling membekas baginya, hingga mencetak pendirian anak itu, apakah aku layak dicintai sebagai Ibu ataukah tidak.





    Aku memang bukan Ibu yang mahir, tapi aku tak mau kehilangan cinta Aiko. Dan akupun jadi teringat dengan target jangka panjang pribadi yang kubuat di buku harian saat lajang. Aku pernah terpikir untuk pensiun dini, karena ingin total berperan sebagai Ibu.





    Ternyata, aku salah menilai diri sendiri selama ini. Dulu, aku menganggap tak akan pernah memerankan kesejatian wanita. Namun, ternyata aku telah mencintai dan mempersiapkan diri untuk anak - anakku kelak, bahkan sebelum mereka lahir.





    Demi membaca buku harian itu, aku tergugu. Hingga berulang kali aku mendoakan kekayaan dan kesuksesan usaha bagi Mas Ahmad, agar lebih mudah mewujudkan mimpi itu. Karena aku tak ingin pula kehilangan masa remaja Aiko dan adik - adiknya kelak.





    Hingga motivasi ini pulalah yang akhirnya menetralkan kejenuhanku. Layaknya Mbak Jazim yang berterima kasih pada Mark Sang Pelopor Facebook, ini juga yang menjadi persamaanku dengan Beliau. Selain beberapa lomba penulisan essay maupun cerita pendek, termasuk berulangkali mengikutsertakan satu – satunya novelku ke dalam berbagai kompetisi penulisan novel (dan selalu berakhir hanya sebagai ‘nominasi’ saja hahahaha…..). Jika luang, hanya perlu 1 jam saja untuk menuliskan sebuah atau dua buah catatan ringan dan singkat tentang keseharianku sebagai istri, ibu, Muslimah maupun PNS wanita.





    It absolutely cures me, really! Hanya satu jam saja untuk menulis, aku bisa mengikis kejenuhan itu dan seperti pegas…. Melesat jauh berenergi, melebihi sebelumnya ketika dimampatkan untuk mengeksplorasi ide menulis. Energi ini pulalah yang senantiasa memupuk semangatku untuk tetap setia dan sepenuh jiwa mendampingi Aiko maupun insyaAllah adik – adiknya kelak.



    Rasa terima kasih saja tak cukup pada suamiku tercinta, Mas Ahmad, yang telah begitu setia mendukung potensiku ini. Termasuk di antaranya memfasilitasi modem andalan agar kapasitas menulisku semakin terasah. I always love the way you love me, Popu ^^





    Finally, about my dreams… Kuakui, betapa terombang – ambingnya hati ini kala berbagi jasad antara rumah dan kantor. Aku bukannya tak mencintai pekerjaanku. At least, untuk saat ini.



    Tanpa bermaksud mencari pembenaran, aku yakin hampir keseluruhan Ibu muda yang berkarir, merasakan hal serupa. Meskipun, tidak semuanya menginginkan solusi yang sama sepertiku. Namun, pasti mereka yang memiliki naluri keibuan dan ‘terpaksa’ berkarir demi membantu perjuangan suami, (bisa juga berdakwah di ranah masing – masing), memiliki empati yang lebih tinggi pada anggota keluarga yang ditinggalkan.





    Untungnya, suamiku selalu tersenyum hangat tatkala melepasku bekerja, bukan tersenyum syahdu penuh haru hehehe… Alhamdulillah, Aiko senantiasa ceria kala mencium tanganku sesaat sebelum berangkat kerja. Yah, meskipun harus dirayu ataupun diajak putar – putar kompleks rumah kami dulu hehehe…





    Akan tetapi, tetap tidak salah kan, kalau aku ingin menggenggam erat mimpi itu hingga terwujud?





    Semoga... Perkenankan Ya Allah ...


    Blitar, 8 Maret 2011

    Najmatul Jannah

    Teruntuk Aiko dan adiknya, jika Allah menghendaki.
    .