Hirarki Rasa Takut

    Author: Najmatul Jannah Genre:
    Rating


    gambar diambil dari chikasheart.blogspot.com

    Ketakutan, sebuah rasa manusiawi yang wajar terjadi pada diri kita. Menurut pandangan psikologi faal, definisi takut ialah suatu emosi yang ditandai oleh perasaan tidak enak, ketegangan, dan dimana mungkin disertai usaha menghindar atau melarikan diri juga dapat keterlibatan dari sistem saraf otomon atau respon emosional terhadap bahaya sesungguhnya maupun yang ada dalam alam imaginasi. Respon ini ditandai dengan agitasi yang hebat disertai perubahan-perubahan somatik (misalnya detak jantung cepat) dan usaha melepaskan diri atau bersembunyi. Dengan demikian takut adalah salah satu emosi dasar yang ada pada manusia.

    Saya teringat ketika kuliah dulu, setiap malam ada saja teman yang membangunkan untuk diantar ke kamar mandi, alasannya barak tempat kami bernaung terkenal angker. Ternyata ketika ngaji, cerita serupa juga saya dapati melalui murobbi, bahwa beberapa akhwat di kampus luar juga mengalami phobia ke kamar mandi sendirian di tengah malam. Apalagi kalau kamar mandinya terpisah dari rumah, alamat deh, kencing aja harus pake ajudan hehehe Meskipun, saya juga tidak bisa dikatakan pemberani, buktinya pernah coba sekali nonton film horor, malamnya langsung nggak bisa tidur.


    Memang benar, bahwa kemuliaan Risalah Rasulullah SAW, ianya mampu mengubah keyakinan seorang yang keras karakternya seperti Umar bin Khattab r.a. Namun, beliau tetap berperangai "garang"(hingga dalam suatu peperangan, iblis sampai lari terbirit-birit melihat sosoknya yang besar sedang menaiki kudanya sambil membawa pedang yang juga tak kalah besarnya. Saking besarnya sosok sahabat Khulafaur Rasyidin ini, hingga kakinya menjuntai dan agak terseret di tanah ketika duduk di kudanya). Ada yang tetap pemalu seperti Utsman bin Affan, padahal beliau adalah kontributor terbesar dalam dakwah melalui harta perniagaannya, beliau pulalah yang dijuluki Lelaki yang Menggenggam Dua Cahaya, karena dipercaya Rasulullah menikahi dua putrinya (meski tidak bersamaan). Pun di jajaran ummahatul muslimin, masih ada yang mudah tersulut emosinya meskipun disertai kecerdasan luar biasa hingga beliau merupakan icon wanita tercerdas, hingga kecerdasannya seorang saja melebihi kecerdasan seluruh wanita di dunia dan merupakan simbol bahwa kecerdasannya dapat menyaingi laki-laki. Dialah Aisyah binti Abu Bakar r.a. Sosok yang cerdas sekaligus pemarah secara bersamaan, pun demikian, Rasulullah tetap mencintainya. Intinya, apabila hati seseorang telah tercelup dengan shibghah Allah, maka seluruh konsep keyakinan dan pemikirannya 180 derajat juga telah berhaluan pada tiap sendi rukun keimanan, meskipun boleh jadi karakter dasarnya tidak sepenuhnya berubah. Namun, karakter penakut bukan salah satu di antaranya. Sudah sangat jelas, rasa takut bagi yang telah tershibghah dengan kemuliaan kalam Ilahi, layaknya cinta dan benci, rasa takut seorang muslim (terlebih bagi para akhwat yang telah lama mengenal tarbiyah)haruslah bersumber dan bermuara pada keimanan terhadap Allah. Hirarki rasa takut yang terendah harus bersumber pada kekhawatiran qadha' dan qadar, pertanggungjawaban di hari akhir dan seterusnya hingga rasa takut pada Allah sebagai implementasi ketakutan, harap dan kecemasan tertinggi kita.

    Ada sedikit tips bagi yang memiliki kecenderungan psikis seperti ini, salah satunya mungkin sebaiknya kita harus lebih mengenal konsep diri kita sendiri. Kalau sudah tahu takut, ya dihindari aja yang bisa memancing rasa takut itu sendiri. Misalnya dengan menghindari nonton tayangan horor, baca cerita horor atau mendengarnya.Kita tak akan pernah tahu batas keimanan kita, dengan sering mengkonsumsi konten-konten menyeramkan itu, sudah pasti mereduksi dan akhirnya menggerus keimanan serta pemahaman yang bisa jadi telah kita tanamkan bertahun-tahun. Sayang kan, udah lama ikut ngaji, tapi dalam semalam jadi penakut karena habis nonton film horor? ^_^

    Akan tetapi, kalau phobia itu munculnya spontan, apalagi didukung dengan nuansa malam yang sepi dan gelap, mungkin beberapa tips yang saya kutip dari browsing ini akan membantu :
    1. Lebih banyak mengingat kematian, hingga sibuk mempersiapkan amalan untuk menghadapinya. Saya sedikit menambahkan, bukankah kesepian yang hakiki adalah kematian itu sendiri? Di sana, kita benar-benar sendirian mempertanggungjawabkan semuanya, tanpa kawan, suami, anak maupun keluarga.
    2. Mempelajari melalui guru yang benar tentang siapa itu jin. Misalnya saja sebuah buku karangan Quraish Shihab berjudul ’Yang Tersembunyi: Jin, Iblis, Setan & Malaikat’ adalah buku yang membahas makhluk-makhluk gaib dengan rujukan dari Qur’an dan Hadits. Tentu ini jauh lebih terpercaya daripada sumber para dukun (yang tentu saja bisa dikelabuhi oleh jin itu sendiri).
    3. Berlindung kepada penguasa para ’hantu’, siapa lagi kalau bukan Allah swt, Tuhan pencipta kita semua. Kalau kita senantiasa ingat kepada Allah, yang menciptakan dan menguasai para jin, maka diri kita akan menjadi tenang. Kalau kita selalu ingat bahwa Allah itu Maha Melihat, dan selalu ’ada’ di samping kita, maka kita menjadi jauh lebih berani. Kepada siapa lagi tempat berlindung yang lebih baik, kecuali hanya kepada Allah?

    Hirarki rasa takut mungkin bukanlah satu-satunya solusi untuk menggapai keberanian dalam hati, jiwa dan pemikiran harian kita. Karena boleh jadi, ketakutan masing-masing personal berbeda aplikasinya. Bisa jadi, suamilah sumber rasa takut kita, atau atasan di tempat kerja, atau mungkin kehilangan anak, harta dan pengaruh. Namun, alangkah lucunya jika kita merasa ketakutan dengan makhluk yang fana, sementara kita tak merasa cemas jika hari ini tidak tilawah. Kita takut dimarahi atasan, tapi tenang saja jika sholat tidak tepat waktu. Kita takut tak kebagian jatah promosi jabatan, tapi tetap percaya diri dengan kekikiran. Setidaknya, seimbanglah dalam hidup, bahkan jika bisa, selayaknya ketinggalan dalam meningkatkan kualitas tarbiyah dan ibadah menjadi kecemasan utama sebelum ketakutan sepele lainnya.


    A'udzubikalimatiLLaahi ttammaati min syarri maakholaq
    (aku berlindung dengan Kalimat Allah yang Sempurna dari seluruh keburukan CiptaanNya)


    Wallahu alam bish showab



    Blitar, 19 Maret 2010
    Berani itu pilihan