Ini catatan kedua tentang suamiku, setelah catatan pertama yang menceritakan kisah awal pernikahanku. Mas Ahmad (beruntung aku menikahinya, alhamdulillah) adalah seseorang yang mengajarkan arti kesabaran dan ketegasan secara bersamaan. Belum pernah sekalipun aku mendengarnya berkata kasar, belum pernah sekalipun aku mendapatkan tindakan kesewenangannya yang secara mudah dapat saja dia lakukan, bahkan di saat hubungan kami terwarnai oleh sedikit gesekan emosi, dia lebih memilih menjauh untuk sementara, daripada termakan hasutan iblis untuk menyakitiku. Tetapi bila diperlukan, dia juga pernah mengingatkanku dengan tegas dan super serius, tentu saja tanpa harus membahasakan KDRT.
Sepasang suami isteri adalah pelengkap satu dan yang lainnya, sosokku yang romantis, ekspresif dan puitis dianugerahi pasangan hidup yang bahkan tidak mengenal kosakata sastra dalam perbincangannya, tidak bisa menciptakan puisi dalam kreativitasnya dan bukan pencontek film percintaan untuk mengapresiasi perasaannya.
Meski bukan laki-laki romantis (biasanya inilah kelemahan orang ganteng hehe), namun kesehariannya memperlakukanku benar-benar membuatku merasa seperti wanita tercantik di dunia. Di saat kehamilan puteri pertama kami, aku sempat minder dengan postur tubuh yang besar dan buncit. Seolah dapat membaca pikiranku, ketika aku bercermin, dia berkata "Aku bahagia bisa menikahi gadis secantik Ummi". Hampir setiap malam selama masa mengandung, suamiku selalu memijitiku.
Ketika wajahku berjerawat, dia seolah tak melihatnya, ketika wajahku kembali seperti semula, kata-katanya yang singkat sampai membuatku tersenyum sendiri "kok Ummi makin bersinar ya?".
Suamiku memang bukan laki-laki puitis, tapi setiap saat dia bisa mengatakan atau sms ketika kami sedang berjauhan, 3 kata kunci kerukunan pasangan "I love you" atau "aishiteru" atau hanya sekedar kangen. Ketika aku minder dengan seorang akhwat yang pandai memasak dan menjahit sekaligus, dia berkata "Ummi ajari aku masak ya, ayam kecap dan nasi goreng buatanmu enak".
Hal terakhir yang membuatku terharu dan semakin mencintainya adalah dia melakukan kehalalan apa saja demi menunaikan mandatnya sebagai ayah dan suami sekaligus kepala keluarga, bahkan sampai pada batas kekuatan maksimalnya. Rintisan usaha yang dimulainya hampir setahun ini, kadang membuatnya kelelahan di malam hari. Bahkan yang terakhir, sampai harus bed rest karena gejala tifus yang dideritanya.
Suamiku sarjana pendidikan bahasa inggris, dia pernah melakoni profesi sebagai guru di suatu yayasan pendidikan. Profesi kedua adalah pencari dana pada sebuah lembaga amil zakat di blitar. Penghasilannya perbulan plus les privat pada beberapa muridnya tidak melebihi separuh gaji pokokku sebagai PNS. Hal ini sudah kuketahui sebelum menikah, tapi karena keyakinan kami berdua serta restu orang tua, kami tetap melangkah ke depan. Walaupun sempat tergugat oleh beberapa orang, yang menuntut kesetaraan status sosial dalam pernikahanku (ehm), kami tetap pula mengikrarkan akad penuh mitsaqan ghalidza itu. Hingga benarlah yang mengatakan "menikahlah, engkau akan kaya", meski kata2 itu tidak dapat ternafikkan dengan hanya kecukupan materi saja, namun keluasan pemahaman, ketersediaan ilmu dan pematangan batin adalah pendapatan terbesar kami dalam pernikahan ini.
Setelah mendapat izin dari yayasan tempatnya bekerja, suamiku mengundurkan diri dari profesinya sebagai guru, dan mulai merintis usaha layanan antar gas elpiji, galon dan kardus air mineral. Pada awal pemasarannya, dia memfotokopi kartu nama dan membuat stiker keberadaan usahanya ini, mempublikasikannya pada setiap rumah di setiap kompleks yang tersebar di kota blitar, meski belum seluruhnya. Publikasi dan promosi ini dia lakukan mulai pagi sehabis subuh, menyusuri tiap rumah ketika para ibu baru keluar menanti ataupun mengerumuni tukang sayur, bapak-bapak yang sedang ngobrol di warung, hingga depot, catering dan restoran dia datangi. Saking bersemangatnya, tak jarang sampai larut malam dia baru berhenti mempromosikan usaha barunya ini. Hasil kerja keras suamiku ini signifikan juga, dari November 2008 dia mempromosikan layanan antar gas dan air mineral yang berlabel "Mitra Gas" ini, pada Desember 2008, jumlah pelanggannya mencapai angka 200 orang, termasuk di dalamnya pelanggan yang setia adalah catering dan rumah makan. Pada januari 2009, jumlah pelanggannya naik menjadi 350 orang, dan kini berkembang lagi menjadi 400 an orang. Secara finansial, penghasilan suamiku juga meningkat, kadang bisa menyamai gaji pokokku, namun karena efisiensi pembiayaan produksi, suamiku belum berminat memperkerjakan seorang rekan menjadi karyawannya, alhasil sehari dia bisa mengantar hingga 10 tabung elpiji besar (kalau isi beratnya hingga 27 kg, kosongnya mencapai 15 kg), belum termasuk galon dan gas kecil. Layanan antar ini, menggunakan motor sebagai pengangkut dan obrok (keranjang besar dari besi yang telah dilas khusus) sebagai penampung tabung gas maupun galon muatannya. Kadang di balik semangatnya yang luar biasa untuk menyejahterakan anak dan isterinya ini, aku dapati dia ketiduran di kursi, kadang di lantai, juga kadang pernah sakit seperti yang kuceritakan di awal. Meski bukan tipe laki2 materialistis, suamiku begitu detailnya merencanakan masa depan rumah tangga kami, pernah suatu saat dia berkata "doakan ya ummi, setelah balik modal, aku bisa menabung dan membelikan ummi sebuah mobil". Padahal selain bekerja keras ini, suamiku masih sempat bergantian memandikan aiko, bergantian mencuci pakaian, bergantian membersihkan rumah (walaupun sering berantakan lagi hehe) dan kadang masih sempat memijitiku...
Suamiku memang bukan melankolis, tapi dia tidak malu ikut menangis di depanku ketika aku amat sedih, padahal dari masa lalunya yang tidak begitu diperhatikan orang tuanya, sebenarnya kesedihanku tidak bisa mengimbanginya. Suamiku bukan orang yang romantis, tapi perhatian dan rasa pedulinya membuatku senantiasa rindu kepadanya. Suamiku bukan pula orang yang ekspresif, tapi di balik sikap dinginnya pada orang lain, aku tahu bahwa dia hanya ingin berbagi kehangatan pada orang terdekat dan terkasihnya. Dan kini, ketika aku menulis catatan ini, setiap memori yang kutuliskan, menumbuhkan sekian cinta untuknya. Abi, betapa ku mencintaimu, semoga cinta kita diridhai-Nya.
Sepasang suami isteri adalah pelengkap satu dan yang lainnya, sosokku yang romantis, ekspresif dan puitis dianugerahi pasangan hidup yang bahkan tidak mengenal kosakata sastra dalam perbincangannya, tidak bisa menciptakan puisi dalam kreativitasnya dan bukan pencontek film percintaan untuk mengapresiasi perasaannya.
Meski bukan laki-laki romantis (biasanya inilah kelemahan orang ganteng hehe), namun kesehariannya memperlakukanku benar-benar membuatku merasa seperti wanita tercantik di dunia. Di saat kehamilan puteri pertama kami, aku sempat minder dengan postur tubuh yang besar dan buncit. Seolah dapat membaca pikiranku, ketika aku bercermin, dia berkata "Aku bahagia bisa menikahi gadis secantik Ummi". Hampir setiap malam selama masa mengandung, suamiku selalu memijitiku.
Ketika wajahku berjerawat, dia seolah tak melihatnya, ketika wajahku kembali seperti semula, kata-katanya yang singkat sampai membuatku tersenyum sendiri "kok Ummi makin bersinar ya?".
Suamiku memang bukan laki-laki puitis, tapi setiap saat dia bisa mengatakan atau sms ketika kami sedang berjauhan, 3 kata kunci kerukunan pasangan "I love you" atau "aishiteru" atau hanya sekedar kangen. Ketika aku minder dengan seorang akhwat yang pandai memasak dan menjahit sekaligus, dia berkata "Ummi ajari aku masak ya, ayam kecap dan nasi goreng buatanmu enak".
Hal terakhir yang membuatku terharu dan semakin mencintainya adalah dia melakukan kehalalan apa saja demi menunaikan mandatnya sebagai ayah dan suami sekaligus kepala keluarga, bahkan sampai pada batas kekuatan maksimalnya. Rintisan usaha yang dimulainya hampir setahun ini, kadang membuatnya kelelahan di malam hari. Bahkan yang terakhir, sampai harus bed rest karena gejala tifus yang dideritanya.
Suamiku sarjana pendidikan bahasa inggris, dia pernah melakoni profesi sebagai guru di suatu yayasan pendidikan. Profesi kedua adalah pencari dana pada sebuah lembaga amil zakat di blitar. Penghasilannya perbulan plus les privat pada beberapa muridnya tidak melebihi separuh gaji pokokku sebagai PNS. Hal ini sudah kuketahui sebelum menikah, tapi karena keyakinan kami berdua serta restu orang tua, kami tetap melangkah ke depan. Walaupun sempat tergugat oleh beberapa orang, yang menuntut kesetaraan status sosial dalam pernikahanku (ehm), kami tetap pula mengikrarkan akad penuh mitsaqan ghalidza itu. Hingga benarlah yang mengatakan "menikahlah, engkau akan kaya", meski kata2 itu tidak dapat ternafikkan dengan hanya kecukupan materi saja, namun keluasan pemahaman, ketersediaan ilmu dan pematangan batin adalah pendapatan terbesar kami dalam pernikahan ini.
Setelah mendapat izin dari yayasan tempatnya bekerja, suamiku mengundurkan diri dari profesinya sebagai guru, dan mulai merintis usaha layanan antar gas elpiji, galon dan kardus air mineral. Pada awal pemasarannya, dia memfotokopi kartu nama dan membuat stiker keberadaan usahanya ini, mempublikasikannya pada setiap rumah di setiap kompleks yang tersebar di kota blitar, meski belum seluruhnya. Publikasi dan promosi ini dia lakukan mulai pagi sehabis subuh, menyusuri tiap rumah ketika para ibu baru keluar menanti ataupun mengerumuni tukang sayur, bapak-bapak yang sedang ngobrol di warung, hingga depot, catering dan restoran dia datangi. Saking bersemangatnya, tak jarang sampai larut malam dia baru berhenti mempromosikan usaha barunya ini. Hasil kerja keras suamiku ini signifikan juga, dari November 2008 dia mempromosikan layanan antar gas dan air mineral yang berlabel "Mitra Gas" ini, pada Desember 2008, jumlah pelanggannya mencapai angka 200 orang, termasuk di dalamnya pelanggan yang setia adalah catering dan rumah makan. Pada januari 2009, jumlah pelanggannya naik menjadi 350 orang, dan kini berkembang lagi menjadi 400 an orang. Secara finansial, penghasilan suamiku juga meningkat, kadang bisa menyamai gaji pokokku, namun karena efisiensi pembiayaan produksi, suamiku belum berminat memperkerjakan seorang rekan menjadi karyawannya, alhasil sehari dia bisa mengantar hingga 10 tabung elpiji besar (kalau isi beratnya hingga 27 kg, kosongnya mencapai 15 kg), belum termasuk galon dan gas kecil. Layanan antar ini, menggunakan motor sebagai pengangkut dan obrok (keranjang besar dari besi yang telah dilas khusus) sebagai penampung tabung gas maupun galon muatannya. Kadang di balik semangatnya yang luar biasa untuk menyejahterakan anak dan isterinya ini, aku dapati dia ketiduran di kursi, kadang di lantai, juga kadang pernah sakit seperti yang kuceritakan di awal. Meski bukan tipe laki2 materialistis, suamiku begitu detailnya merencanakan masa depan rumah tangga kami, pernah suatu saat dia berkata "doakan ya ummi, setelah balik modal, aku bisa menabung dan membelikan ummi sebuah mobil". Padahal selain bekerja keras ini, suamiku masih sempat bergantian memandikan aiko, bergantian mencuci pakaian, bergantian membersihkan rumah (walaupun sering berantakan lagi hehe) dan kadang masih sempat memijitiku...
Suamiku memang bukan melankolis, tapi dia tidak malu ikut menangis di depanku ketika aku amat sedih, padahal dari masa lalunya yang tidak begitu diperhatikan orang tuanya, sebenarnya kesedihanku tidak bisa mengimbanginya. Suamiku bukan orang yang romantis, tapi perhatian dan rasa pedulinya membuatku senantiasa rindu kepadanya. Suamiku bukan pula orang yang ekspresif, tapi di balik sikap dinginnya pada orang lain, aku tahu bahwa dia hanya ingin berbagi kehangatan pada orang terdekat dan terkasihnya. Dan kini, ketika aku menulis catatan ini, setiap memori yang kutuliskan, menumbuhkan sekian cinta untuknya. Abi, betapa ku mencintaimu, semoga cinta kita diridhai-Nya.







Poskan Komentar