
Gambar diambil dari s284.photobucket.com
Sentakan pertama yang mengejutkan pagi awal September 2003 itu adalah berita tentang peristiwa tragis meninggalnya rekan seperjuangan kami, Wahyu Hidayat, praja seangkatan kami dari Bogor, Jawa Barat. Meski kurang begitu mengenalnya, namun ikatan satu angkatan sudah cukup membuat saya merasakan keterkejutan yang luar biasa. Walaupun kurang begitu mengenal almarhum, namun karena kami pernah berkecimpung dalam suatu wadah aktivitas bersama, sudah cukup membuat saya merasa kehilangan dan berduka. Apalagi beberapa jam sebelumnya, selepas isya’ tepatnya, setelah kegiatan kerohanian, kami hampir bertabrakan di perpustakaan Masjid Darul Ma’arif, ketika itu saya hendak keluar perpustakaan dan berpapasan dengan almarhum yang akan masuk, jelas sekali beliau berkata ”Astaghfirullah!!”, keesokannya saya baru sadar kalau itu mungkin ”sapaannya” yang pertama dan terakhir. Apalagi dari kronologis kematiannya yang pasti sudah kita ketahui bersama, memberikan hikmah tersendiri bagi kami. Ketika itu, koreksi dan pembinaan senior sekontingen sudah sangat biasa. Walaupun sudah sampai pada tingkat kedua, kami tetap ngeri juga untuk menghadapinya, namun hal tersebut sudah bukan barang yang asing bagi kami. Tapi, kami tidak pernah menyangka kalau sampai memakan korban dan berbuntut panjang, bahkan sampai sekarang, setidaknya bagi sebagian dari kami (bagi beberapa orang praja senior yang terlibat, hingga mereka telah lulus pun, jeratan pidana masih membayangi).
Peristiwa ini, merupakan awal dari serangkaian kejadian yang sedikit demi sedikit membuka tabir sistem pembinaan di STPDN ke hadapan media dan masyarakat. Walaupun sebelumnya sudah ada beberapa kasus pendahulu, seperti Ery Rahman dan Utari, namun tidak sebooming tahun 2003, mungkin karena media cetak dan elektronik sudah demikian beragamnya, namun saya percaya, bahwa segala sesuatu yang kurang wajar dan disembunyikan, pada akhirnya, mau tidak mau, serapat apapun disimpan, cepat atau lambat, akan terkuak juga. Kasus Wahyu ini berdampak luas dan begitu serentaknya, bagi seluruh elemen ksatrian, mulai dari jajaran Ketua (ketika itu Rektor disebut Ketua STPDN), dosen, pengasuh, hingga praja sendiri secara otomatis dan keluarganya di rumah. Saya masih ingat sekali, ketika itu, tidak banyak yang berterus terang pada orang tua menceritakan bagaimana keras dan pahitnya menjadi junior di dua tahun pertama kuliah. Sehingga setelah kasus ini mencuat, banyak teman yang seperti kebingungan sekali menceritakan kebenaran sekaligus menenangkan hati ayah dan ibunya yang tidak dipersiapkan sejak awal. Sedangkan berkaitan dengan awak media yang banyak datang dan pergi, bahkan ada beberapa tim yang sengaja tinggal di sekitar area kampus untuk mencari informasi, secara spontan dan tanpa perintah tertulis, kami melakukan (yang pers sering menyebutnya) Gerakan Tutup Mulut (GTM), suatu tindakan teraman dan paling mudah kami terapkan saat itu.
Kasus Wahyu juga memberikan berbagai julukan baru bagi almamater kami, tentunya dikaitkan dengan paradigma kekerasan (yang juga dibanding-bandingkan dengan pola pendisipinan militer yang seharusnya bukan jatah kami, calon pegawai negeri sipil, abdi masyarakat), anak emas negara yang banyak menghamburkan pajak rakyat dengan melakukan tindakan destruktif pada sesamanya, hingga usulan agar institusi ini dibubarkan saja. Di mata masyarakatpun, stigma negatif sudah demikian merebaknya, juga di kalangan sesama teman mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri, baik itu umum, maupun kedinasan dan swasta, kritik tajam mengalir begitu derasnya. Jika tiba waktunya cuti hari raya ataupun kenaikan tingkat, seluruh praja pulang ke daerah asalnya masing-masing. Hal pertama yang kami lakukan setelah melepas rindu dengan keluarga di rumah adalah menghadap Lurah untuk melaporkan kepulangan kami dan mendapatkan pengesahan surat cuti, kemudian menghadap Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan terakhir para Purna Praja. Untuk kumpulan orang terakhir, tentu karena merasa senasib dan sepenanggungan, lebih banyak memberi motivasi dan saran membangun optimisme kami. Tapi, bagi kalangan masyarakat luas, termasuk sesama komunitas pegawai negeri (dari luar STPDN), mereka menyampaikan pertanyaan yang bermuatan kurang lebih sama ”Apakah yang diberitakan itu benar?”, kalau kami diam dan tak menjawab, pasti selalu dinilai GTM. Jika menjawab semua itu rekayasa media, mereka tentu tidak akan percaya, akhirnya paling mudah menjawab ”Sekarang sudah banyak dilakukan pembenahan, semoga yang seperti itu tidak terjadi lagi”.
Saya tidak menyalahkan jika media, masyarakat, mahasiswa maupun birokrat memiliki persepsi, asumsi maupun stigma kuat pada citra kampus ini. Saya juga berusaha memposisikan diri sebagai penonton televisi saat SCTV, Metro TV bersama segenap media cetak dan elektronik lainnya memberitakan kasus kekerasan maupun kemerosotan moral di STPDN. Apalagi ketika saya menulis ini, saya telah memiliki satu orang anak, saya berusaha menyelami apa yang dirasakan para ibu, melihat di televisi sekumpulan pemuda bermasa depan cerah dipukul dan ditendang tanpa perlawanan, malah terlihat berbaris antri menunggu giliran untuk mendapatkan ”bagiannya”, saya juga mencoba meresapi kegetiran dan keprihatinan para orang tua ketika pasca kasus Cliff Muntu, Metro TV menayangkan secara khusus realita degradasi moral dan etika (sebagian) praja berhubungan dengan ”kost bersama” praja dan wanita praja, serta kasus aborsi. Saya juga memahami sekali keberatan rekan-rekan mahasiswa se Indonesia pada ketidakadilan sistematis pendidikan, di saat banyak sekali yang harus berjuang demi membayar uang kuliah, buku dan biaya hidup di tanah perantauan, kami para praja malah ber”pesta pora” dengan uang rakyat dan menyia-nyiakannya dengan gemblengan yang sepertinya tanpa makna. Namun, saya ingin mengajak Anda sedikit berbeda memandang STPDN dengan memperkenalkan komunitas kecil yang hampir tidak terlihat. Saya ingin mengajak Anda mengenal mereka, yang dari sejak awal berdirinya STPDN sebenarnya telah ada, dan eksis berperan, hingga peranannya juga dirasakan oleh masyarakat sekitar kampus, baik di Jatinangor maupun di wilayah kampus IIP Jakarta, melalui kegiatan sosial kemasyarakatannya. Saya ingin menambah wawasan para mahasiswa tentang STPDN dengan memperkenalkan mereka, walaupun pastinya komunitas serupa, dengan sebutan yang mungkin agak berbeda, juga terdapat di kampus Anda masing-masing. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat saya, Anda perlu mengetahui manfaat positif komunitas ini bagi kami, para praja yang di dua tahun pertama kuliah seperti saya deskripsikan di awal. Bagi praja tingkat pertama (Muda Praja) dan kedua (Madya Praja), dengan mobilitas luar biasa di dalam kampus, baik itu kegiatan terjadwal dan formal, seperti kuliah, apel, aerobik, maupun kegiatan ekstra berupa pembinaan senior dan pengasuh, pengkaderan bahkan koreksi senior (maupun kadang juga pengasuh), bagi para praja ini, keberadaan komunitas tersebut layaknya rumah kedua setelah naungan orang tua. Komunitas ini merupakan suplemen hati dan fikiran yang menyegarkan raga dan tekad untuk tegar menghadapi rutinitas pendidikan di kawah candradimuka. Komunitas ini pula yang segera menjawab pertanyaan Anda tentang keberadaan jilbab di STPDN, yang notabene jika dilihat pembinaannya di masa lalu, sepertinya jauh dari kesan religius. Setiap praja yang bergabung dalam komunitas ini, walaupun di pundak mereka masing-masing terdapat bilangan bintang tertera, namun senioritas tidak mereka pakai pada relasi antaranggotanya. Sebuah sistem yang bisa dikatakan unik, melihat kentalnya suasana tersebut di kampus ini. Panggilan antarsesamanya pun sudah bukan lagi kakak ataupun adik, melainkan Akhi untuk praja laki-lakinya dan Ukhti untuk wanita prajanya. Landasan dan perekat hubungan mereka bukan lagi semangat satu almamater dan hanya sekedar persamaan kontingen asal semata. Penanaman nilai dan pemahaman ini tidak hanya dirasakan oleh praja junior saja, bagi praja tingkat tiga (Nindya Praja) dan tingkat akhir (Wasana Praja), yang masih konsisten dan berkomitmen untuk tetap tergabung dalam nuansa kebaikan komunitas ini (karena walau bagaimanapun, keanggotaannya seperti berhukum seleksi alam, kesungguhannya justru bisa dilihat pada tingkat senioritas seorang praja, yang sudah terbebas dari kungkungan angkatan di atasnya serta longgarnya sistem pembinaan) tetap memberikan kontribusi pijakan moral dan prinsip yang mendalam bagi mereka. Pembinaan konseptual dan spiritual yang difasilitasi komunitas ini, pada dasarnya dibutuhkan oleh setiap tingkatan praja STPDN, namun sekali lagi karena tanpa disadari, ada pengkondisian otomatis layaknya saringan personal, hanya mereka yang benar-benar konsistenlah yang tetap merapat pada barisan.
Saya perkenalkan kepada Anda, sisi yang berbeda dari harmonisasi hubungan antarpraja, khususnya praja muslim di STPDN. Saya perkenalkan kepada Anda, yang meminjam istilah dari seorang rekan (terima kasih, Mbak Ery, atas inspirasinya), sebuah komunitas yang bisa dikatakan sebagai mutiara yang terpendam di kampus ini. Saya perkenalkan kepada Anda, Lembaga Dakwah Kampus kami, Bidang Kerohanian Islam Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri yang sering disingkat dengan Rohis STPDN. Di bawah naungan Dinas Kerohanian Wahana Bina Praja (WBP STPDN), berjajar dengan bidang kerohanian yang lain (Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha), Rohis STPDN terbukti secara nyata turut serta memulihkan nama baik STPDN pasca kasus Wahyu Hidayat, melalui berbagai gebyar dakwah, seminar, maupun talk show tentang keIslaman dan materi umum yang tidak jarang mengikutsertakan masyarakat sebagai pesertanya, secara bertahap Rohis telah mengakrabkan dan mencairkan hubungan sosialnya dengan warga sekitar kampus (baik di Jatinangor maupun di sekitar area IIP Jakarta Selatan ketika angkatan saya kuliah di sana). Tidak hanya itu, pada kegiatan rutin hari besar keagamaan, ketika Idul Adha misalnya, para praja berpartisipasi langsung menyembelih dan mendistribusikan puluhan daging sapi dan ratusan daging kambing hasil kurban praja, dosen dan pegawai kampus. Bahkan kegiatan sosial kemasyarakatan yang lain seperti khitanan massal, bakti sosial dan pengobatan Nabi massal (rukyah dan bekam) juga acapkali dilaksanakan. Sekali lagi, saya yakin bagi mahasiswa perguruan tinggi lainnya pasti juga sering melaksanakan kegiatan seperti ini, namun hal ini juga tak kalah penting bagi kami para praja, untuk belajar mengabdi pada masyarakat, sekaligus memupus eksklusifisme.
Tulisan saya di awal menyatakan hubungan interpersonal pengurus maupun anggota Rohis STPDN merupakan keunikan tersendiri di tengah formalitas senioritas kampus ini. Itu memang benar dan sungguh terjadi, meskipun tetap ada penghargaan dan apresiasi pada praja senior, tetapi nuansanya bukan karena takut akan dikoreksi maupun harus tegap dan siap bila mengadakan kontak. Selain panggilan akhi dan ukhti seperti di atas, sistem pembinaan mental anggota Rohis ini justru berlandaskan sebuah tatanan universal persaudaraan didasarkan persamaan inspirasi yang disebut ukhuwah. Memang ada reward and punishment pada pembinaannya. Sejak tingkat pertama, kami praja muslim telah diperkenalkan dengan suatu program bertajuk BIDIK (Bimbingan Intensif Dasar-Dasar keIslaman dan Kaderisasi), bagi teman mahasiswa, anda biasanya menyebut mentoring dasar, sebuah pembinaan rohani rutin seminggu sekali, setiap praja tingkat awal diwajibkan mengikutinya. Teknisnya praja yang jumlahnya ratusan dibagi dalam beberapa kelompok, putra dan putri dipisahkan, ada pembina pada tiap kelompok (bisa dari praja senior maupun pemateri dari kampus lain, biasanya dari Universitas Padjajaran, tetangga terdekat kampus kami). Materinya pun beragam, mulai dari materi agama, kesehatan sampai problematika ummat, terkadang juga ada sesi berbagi (curhat) pada kegiatan ini. Namun jika ada yang berhalangan hadir karena sakit (sungguhan, karena ada juga yang berpura-pura) ataupun ijin syar’i lainnya, mungkin masih mendapatkan pemakluman. Tapi, jika alasan ketidakhadiran tersebut kurang jelas (misalnya ketiduran) bahkan terkesan dibuat-buat, para senior pengurus Rohis biasanya mengambil langkah unik untuk mengiqob adiknya. Biasanya dengan cara menugaskan juniornya membuat kliping artikel Islami maupun makalah sejenis, kadang jika deviasinya keterlaluan (biasanya menyangkut etika), binsik juga diberlakukan namun porsinya tidak berlebihan (misalnya push up ataupun sit up dengan kadar yang tidak sampai menyakiti). Reward ataupun penghargaan, secara obyektif juga diberlakukan. Secara eksternal (di luar pengurus), diadakan lomba berkala (biasanya lomba nasyid antar asrama, puisi maupun mading) dengan hadiah sepatutnya, ada juga penghargaan bagi yang paling rajin mengikuti kegiatan kerohanian di kampus. Adapun internalisasi aktivitasnya, yang meliputi jajaran pengurus Rohis itu sendiri, fasilitasinya berupa pembinaan (berbentuk mentoring lanjutan tiap pekan), training motivasi (outbond maupun tatsqif indoor) dan tarbiyah rutin (tarbiyatul aulad, tahsin, pelatihan sholat khusyu’, pelatihan munakahat, dan lain-lain) . Pengembangan sayap dakwah kampus Rohis STPDN juga terakomodasi dengan jalinan kemitraan bersama organisasi sejenis di Perguruan Tinggi Negeri, swasta maupun kedinasan lainnya.
Bagi saya pribadi, selaku anggota sekaligus salah satu pengurusnya, bergabung dalam komunitas kebaikan seperti Rohis ini, lebih dari sekedar bergabung dalam organisasi keagamaan semata. Nuansa keakraban dan cahaya persahabatan yang terpendar dari pesona ukhuwah di dalamnya mampu mengasah berlian identitas personal yang mengikutinya. Katakanlah karena persamaan inspirasi (baca: akidah), setiap praja yang tergabung di dalam organisasi ini, memiliki semangat yang sama untuk menjadi insan kamil hingga secara bersama-sama juga bertukar motivasi dan ilmu untuk mencapai hal tersebut. Katakanlah juga, untuk mempermudah sugesti kita, bahwa boleh jadi ketika lulus dari bangku SMU ada beberapa praja yang kurang begitu mengenal jati dirinya, namun selepas lulus dari STPDN, dan sebelumnya sempat tergabung di barisan Rohis, mereka telah menemukan potensi dan karakter sejatinya, bahkan seperti yang saya rasakan, kedua hal tersebut terasa lebih membanggakan dari hanya sekedar gelar S. STP yang kami raih. Hingga katakanlah pula, Rohis-lah yang membuat para purna praja yang pernah tergabung di dalamnya, secara sikap pembawaan, cara berbicara, pemikiran maupun penampilan sedikit ”berbeda” dengan umumnya purna praja, singkatnya Rohis telah melembutkan hati, menghaluskan perilaku, pemikiran dan pola keseharian tanpa mengurangi ketegasan mereka.
Memang tak dapat dipungkiri, bahwa ekspansi dakwah kampus demikian meluasnya, hingga menyentuh seluruh lapisan pendidikan tinggi ini, termasuk STPDN/IPDN. Kita harus mengakui orisinalitas dan keunikan para da’i yang berkontribusi secara cerdas mengemas keIslaman hingga menggugah semangat para mahasiswa yang memang kehausan ilmu dalam masa pendewasaan pemikirannya. Pada awal tulisan, saya menceritakan bahwa Rohis STPDN, dengan berbagai sebutannya, telah lama eksis bahkan sejak angkatan pertama. Semoga saja tongkat estafet vaksinasi kebenaran tersebut tetap berlanjut di sekolah pamong praja ini. Hingga para purna praja dapat secara berkualitas dan matang membuktikan keprofesionalannya dalam sosok negarawan yang demokratis dan bermartabat.
Blitar, 25 Agustus 2009
Salam Ukhuwah penuh kerinduan teruntuk para pusat tarbiyah masa depan, para akhwat purna praja STPDN Angkatan XIV dimanapun anti berada
Peristiwa ini, merupakan awal dari serangkaian kejadian yang sedikit demi sedikit membuka tabir sistem pembinaan di STPDN ke hadapan media dan masyarakat. Walaupun sebelumnya sudah ada beberapa kasus pendahulu, seperti Ery Rahman dan Utari, namun tidak sebooming tahun 2003, mungkin karena media cetak dan elektronik sudah demikian beragamnya, namun saya percaya, bahwa segala sesuatu yang kurang wajar dan disembunyikan, pada akhirnya, mau tidak mau, serapat apapun disimpan, cepat atau lambat, akan terkuak juga. Kasus Wahyu ini berdampak luas dan begitu serentaknya, bagi seluruh elemen ksatrian, mulai dari jajaran Ketua (ketika itu Rektor disebut Ketua STPDN), dosen, pengasuh, hingga praja sendiri secara otomatis dan keluarganya di rumah. Saya masih ingat sekali, ketika itu, tidak banyak yang berterus terang pada orang tua menceritakan bagaimana keras dan pahitnya menjadi junior di dua tahun pertama kuliah. Sehingga setelah kasus ini mencuat, banyak teman yang seperti kebingungan sekali menceritakan kebenaran sekaligus menenangkan hati ayah dan ibunya yang tidak dipersiapkan sejak awal. Sedangkan berkaitan dengan awak media yang banyak datang dan pergi, bahkan ada beberapa tim yang sengaja tinggal di sekitar area kampus untuk mencari informasi, secara spontan dan tanpa perintah tertulis, kami melakukan (yang pers sering menyebutnya) Gerakan Tutup Mulut (GTM), suatu tindakan teraman dan paling mudah kami terapkan saat itu.
Kasus Wahyu juga memberikan berbagai julukan baru bagi almamater kami, tentunya dikaitkan dengan paradigma kekerasan (yang juga dibanding-bandingkan dengan pola pendisipinan militer yang seharusnya bukan jatah kami, calon pegawai negeri sipil, abdi masyarakat), anak emas negara yang banyak menghamburkan pajak rakyat dengan melakukan tindakan destruktif pada sesamanya, hingga usulan agar institusi ini dibubarkan saja. Di mata masyarakatpun, stigma negatif sudah demikian merebaknya, juga di kalangan sesama teman mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri, baik itu umum, maupun kedinasan dan swasta, kritik tajam mengalir begitu derasnya. Jika tiba waktunya cuti hari raya ataupun kenaikan tingkat, seluruh praja pulang ke daerah asalnya masing-masing. Hal pertama yang kami lakukan setelah melepas rindu dengan keluarga di rumah adalah menghadap Lurah untuk melaporkan kepulangan kami dan mendapatkan pengesahan surat cuti, kemudian menghadap Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan terakhir para Purna Praja. Untuk kumpulan orang terakhir, tentu karena merasa senasib dan sepenanggungan, lebih banyak memberi motivasi dan saran membangun optimisme kami. Tapi, bagi kalangan masyarakat luas, termasuk sesama komunitas pegawai negeri (dari luar STPDN), mereka menyampaikan pertanyaan yang bermuatan kurang lebih sama ”Apakah yang diberitakan itu benar?”, kalau kami diam dan tak menjawab, pasti selalu dinilai GTM. Jika menjawab semua itu rekayasa media, mereka tentu tidak akan percaya, akhirnya paling mudah menjawab ”Sekarang sudah banyak dilakukan pembenahan, semoga yang seperti itu tidak terjadi lagi”.
Saya tidak menyalahkan jika media, masyarakat, mahasiswa maupun birokrat memiliki persepsi, asumsi maupun stigma kuat pada citra kampus ini. Saya juga berusaha memposisikan diri sebagai penonton televisi saat SCTV, Metro TV bersama segenap media cetak dan elektronik lainnya memberitakan kasus kekerasan maupun kemerosotan moral di STPDN. Apalagi ketika saya menulis ini, saya telah memiliki satu orang anak, saya berusaha menyelami apa yang dirasakan para ibu, melihat di televisi sekumpulan pemuda bermasa depan cerah dipukul dan ditendang tanpa perlawanan, malah terlihat berbaris antri menunggu giliran untuk mendapatkan ”bagiannya”, saya juga mencoba meresapi kegetiran dan keprihatinan para orang tua ketika pasca kasus Cliff Muntu, Metro TV menayangkan secara khusus realita degradasi moral dan etika (sebagian) praja berhubungan dengan ”kost bersama” praja dan wanita praja, serta kasus aborsi. Saya juga memahami sekali keberatan rekan-rekan mahasiswa se Indonesia pada ketidakadilan sistematis pendidikan, di saat banyak sekali yang harus berjuang demi membayar uang kuliah, buku dan biaya hidup di tanah perantauan, kami para praja malah ber”pesta pora” dengan uang rakyat dan menyia-nyiakannya dengan gemblengan yang sepertinya tanpa makna. Namun, saya ingin mengajak Anda sedikit berbeda memandang STPDN dengan memperkenalkan komunitas kecil yang hampir tidak terlihat. Saya ingin mengajak Anda mengenal mereka, yang dari sejak awal berdirinya STPDN sebenarnya telah ada, dan eksis berperan, hingga peranannya juga dirasakan oleh masyarakat sekitar kampus, baik di Jatinangor maupun di wilayah kampus IIP Jakarta, melalui kegiatan sosial kemasyarakatannya. Saya ingin menambah wawasan para mahasiswa tentang STPDN dengan memperkenalkan mereka, walaupun pastinya komunitas serupa, dengan sebutan yang mungkin agak berbeda, juga terdapat di kampus Anda masing-masing. Namun, tanpa mengurangi rasa hormat saya, Anda perlu mengetahui manfaat positif komunitas ini bagi kami, para praja yang di dua tahun pertama kuliah seperti saya deskripsikan di awal. Bagi praja tingkat pertama (Muda Praja) dan kedua (Madya Praja), dengan mobilitas luar biasa di dalam kampus, baik itu kegiatan terjadwal dan formal, seperti kuliah, apel, aerobik, maupun kegiatan ekstra berupa pembinaan senior dan pengasuh, pengkaderan bahkan koreksi senior (maupun kadang juga pengasuh), bagi para praja ini, keberadaan komunitas tersebut layaknya rumah kedua setelah naungan orang tua. Komunitas ini merupakan suplemen hati dan fikiran yang menyegarkan raga dan tekad untuk tegar menghadapi rutinitas pendidikan di kawah candradimuka. Komunitas ini pula yang segera menjawab pertanyaan Anda tentang keberadaan jilbab di STPDN, yang notabene jika dilihat pembinaannya di masa lalu, sepertinya jauh dari kesan religius. Setiap praja yang bergabung dalam komunitas ini, walaupun di pundak mereka masing-masing terdapat bilangan bintang tertera, namun senioritas tidak mereka pakai pada relasi antaranggotanya. Sebuah sistem yang bisa dikatakan unik, melihat kentalnya suasana tersebut di kampus ini. Panggilan antarsesamanya pun sudah bukan lagi kakak ataupun adik, melainkan Akhi untuk praja laki-lakinya dan Ukhti untuk wanita prajanya. Landasan dan perekat hubungan mereka bukan lagi semangat satu almamater dan hanya sekedar persamaan kontingen asal semata. Penanaman nilai dan pemahaman ini tidak hanya dirasakan oleh praja junior saja, bagi praja tingkat tiga (Nindya Praja) dan tingkat akhir (Wasana Praja), yang masih konsisten dan berkomitmen untuk tetap tergabung dalam nuansa kebaikan komunitas ini (karena walau bagaimanapun, keanggotaannya seperti berhukum seleksi alam, kesungguhannya justru bisa dilihat pada tingkat senioritas seorang praja, yang sudah terbebas dari kungkungan angkatan di atasnya serta longgarnya sistem pembinaan) tetap memberikan kontribusi pijakan moral dan prinsip yang mendalam bagi mereka. Pembinaan konseptual dan spiritual yang difasilitasi komunitas ini, pada dasarnya dibutuhkan oleh setiap tingkatan praja STPDN, namun sekali lagi karena tanpa disadari, ada pengkondisian otomatis layaknya saringan personal, hanya mereka yang benar-benar konsistenlah yang tetap merapat pada barisan.
Saya perkenalkan kepada Anda, sisi yang berbeda dari harmonisasi hubungan antarpraja, khususnya praja muslim di STPDN. Saya perkenalkan kepada Anda, yang meminjam istilah dari seorang rekan (terima kasih, Mbak Ery, atas inspirasinya), sebuah komunitas yang bisa dikatakan sebagai mutiara yang terpendam di kampus ini. Saya perkenalkan kepada Anda, Lembaga Dakwah Kampus kami, Bidang Kerohanian Islam Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri yang sering disingkat dengan Rohis STPDN. Di bawah naungan Dinas Kerohanian Wahana Bina Praja (WBP STPDN), berjajar dengan bidang kerohanian yang lain (Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha), Rohis STPDN terbukti secara nyata turut serta memulihkan nama baik STPDN pasca kasus Wahyu Hidayat, melalui berbagai gebyar dakwah, seminar, maupun talk show tentang keIslaman dan materi umum yang tidak jarang mengikutsertakan masyarakat sebagai pesertanya, secara bertahap Rohis telah mengakrabkan dan mencairkan hubungan sosialnya dengan warga sekitar kampus (baik di Jatinangor maupun di sekitar area IIP Jakarta Selatan ketika angkatan saya kuliah di sana). Tidak hanya itu, pada kegiatan rutin hari besar keagamaan, ketika Idul Adha misalnya, para praja berpartisipasi langsung menyembelih dan mendistribusikan puluhan daging sapi dan ratusan daging kambing hasil kurban praja, dosen dan pegawai kampus. Bahkan kegiatan sosial kemasyarakatan yang lain seperti khitanan massal, bakti sosial dan pengobatan Nabi massal (rukyah dan bekam) juga acapkali dilaksanakan. Sekali lagi, saya yakin bagi mahasiswa perguruan tinggi lainnya pasti juga sering melaksanakan kegiatan seperti ini, namun hal ini juga tak kalah penting bagi kami para praja, untuk belajar mengabdi pada masyarakat, sekaligus memupus eksklusifisme.
Tulisan saya di awal menyatakan hubungan interpersonal pengurus maupun anggota Rohis STPDN merupakan keunikan tersendiri di tengah formalitas senioritas kampus ini. Itu memang benar dan sungguh terjadi, meskipun tetap ada penghargaan dan apresiasi pada praja senior, tetapi nuansanya bukan karena takut akan dikoreksi maupun harus tegap dan siap bila mengadakan kontak. Selain panggilan akhi dan ukhti seperti di atas, sistem pembinaan mental anggota Rohis ini justru berlandaskan sebuah tatanan universal persaudaraan didasarkan persamaan inspirasi yang disebut ukhuwah. Memang ada reward and punishment pada pembinaannya. Sejak tingkat pertama, kami praja muslim telah diperkenalkan dengan suatu program bertajuk BIDIK (Bimbingan Intensif Dasar-Dasar keIslaman dan Kaderisasi), bagi teman mahasiswa, anda biasanya menyebut mentoring dasar, sebuah pembinaan rohani rutin seminggu sekali, setiap praja tingkat awal diwajibkan mengikutinya. Teknisnya praja yang jumlahnya ratusan dibagi dalam beberapa kelompok, putra dan putri dipisahkan, ada pembina pada tiap kelompok (bisa dari praja senior maupun pemateri dari kampus lain, biasanya dari Universitas Padjajaran, tetangga terdekat kampus kami). Materinya pun beragam, mulai dari materi agama, kesehatan sampai problematika ummat, terkadang juga ada sesi berbagi (curhat) pada kegiatan ini. Namun jika ada yang berhalangan hadir karena sakit (sungguhan, karena ada juga yang berpura-pura) ataupun ijin syar’i lainnya, mungkin masih mendapatkan pemakluman. Tapi, jika alasan ketidakhadiran tersebut kurang jelas (misalnya ketiduran) bahkan terkesan dibuat-buat, para senior pengurus Rohis biasanya mengambil langkah unik untuk mengiqob adiknya. Biasanya dengan cara menugaskan juniornya membuat kliping artikel Islami maupun makalah sejenis, kadang jika deviasinya keterlaluan (biasanya menyangkut etika), binsik juga diberlakukan namun porsinya tidak berlebihan (misalnya push up ataupun sit up dengan kadar yang tidak sampai menyakiti). Reward ataupun penghargaan, secara obyektif juga diberlakukan. Secara eksternal (di luar pengurus), diadakan lomba berkala (biasanya lomba nasyid antar asrama, puisi maupun mading) dengan hadiah sepatutnya, ada juga penghargaan bagi yang paling rajin mengikuti kegiatan kerohanian di kampus. Adapun internalisasi aktivitasnya, yang meliputi jajaran pengurus Rohis itu sendiri, fasilitasinya berupa pembinaan (berbentuk mentoring lanjutan tiap pekan), training motivasi (outbond maupun tatsqif indoor) dan tarbiyah rutin (tarbiyatul aulad, tahsin, pelatihan sholat khusyu’, pelatihan munakahat, dan lain-lain) . Pengembangan sayap dakwah kampus Rohis STPDN juga terakomodasi dengan jalinan kemitraan bersama organisasi sejenis di Perguruan Tinggi Negeri, swasta maupun kedinasan lainnya.
Bagi saya pribadi, selaku anggota sekaligus salah satu pengurusnya, bergabung dalam komunitas kebaikan seperti Rohis ini, lebih dari sekedar bergabung dalam organisasi keagamaan semata. Nuansa keakraban dan cahaya persahabatan yang terpendar dari pesona ukhuwah di dalamnya mampu mengasah berlian identitas personal yang mengikutinya. Katakanlah karena persamaan inspirasi (baca: akidah), setiap praja yang tergabung di dalam organisasi ini, memiliki semangat yang sama untuk menjadi insan kamil hingga secara bersama-sama juga bertukar motivasi dan ilmu untuk mencapai hal tersebut. Katakanlah juga, untuk mempermudah sugesti kita, bahwa boleh jadi ketika lulus dari bangku SMU ada beberapa praja yang kurang begitu mengenal jati dirinya, namun selepas lulus dari STPDN, dan sebelumnya sempat tergabung di barisan Rohis, mereka telah menemukan potensi dan karakter sejatinya, bahkan seperti yang saya rasakan, kedua hal tersebut terasa lebih membanggakan dari hanya sekedar gelar S. STP yang kami raih. Hingga katakanlah pula, Rohis-lah yang membuat para purna praja yang pernah tergabung di dalamnya, secara sikap pembawaan, cara berbicara, pemikiran maupun penampilan sedikit ”berbeda” dengan umumnya purna praja, singkatnya Rohis telah melembutkan hati, menghaluskan perilaku, pemikiran dan pola keseharian tanpa mengurangi ketegasan mereka.
Memang tak dapat dipungkiri, bahwa ekspansi dakwah kampus demikian meluasnya, hingga menyentuh seluruh lapisan pendidikan tinggi ini, termasuk STPDN/IPDN. Kita harus mengakui orisinalitas dan keunikan para da’i yang berkontribusi secara cerdas mengemas keIslaman hingga menggugah semangat para mahasiswa yang memang kehausan ilmu dalam masa pendewasaan pemikirannya. Pada awal tulisan, saya menceritakan bahwa Rohis STPDN, dengan berbagai sebutannya, telah lama eksis bahkan sejak angkatan pertama. Semoga saja tongkat estafet vaksinasi kebenaran tersebut tetap berlanjut di sekolah pamong praja ini. Hingga para purna praja dapat secara berkualitas dan matang membuktikan keprofesionalannya dalam sosok negarawan yang demokratis dan bermartabat.
Blitar, 25 Agustus 2009
Salam Ukhuwah penuh kerinduan teruntuk para pusat tarbiyah masa depan, para akhwat purna praja STPDN Angkatan XIV dimanapun anti berada





Poskan Komentar