Memperbarui Ikatan

    Author: Najmatul Jannah Genre:
    Rating


    gambar diambil dari smsjohorkluang.blogspot.com

    Bagaikan tanaman, setiap kebersamaan pertemanan yang diperakrab kemudian disebut dengan persahabatan, selain memerlukan nutrisi pokok berupa komunikasi, kita juga secara berkala dapat membubuhkan suplemen penyegar untuk memperbarui nuansa kedekatan antarhati. Apapun motivasinya (semoga kita tidak menjadi sosok berkepribadian ganda yang hanya menginginkan keuntungan dan asas manfaat saja dari persahabatan, tanpa mau mengecap pahitnya ujian, bahkan melenggang begitu saja ketika sebuah hubungan terasa seperti tebu yang telah habis sarinya), persahabatan yang beranggotakan manusia dengan beranekaragam pemikiran, kebiasaan dan karakter yang kadang sangat jauh bertolak belakang satu dengan lainnya, pasti tidak bisa dihindarkan dengan sesuatu yang bernama kejenuhan. Hal ini bisa ditimbulkan dari monotonnya corak rutinitas suatu relasi, hambatan eksternal yang kompleks maupun aktivitas yang padat.


    Bersegera dan saling mendahului menjadi sahabat sejati yang senantiasa memahami dan berusaha seunik mungkin mengendurkan ikatan, memolesnya dengan pelumas ketulusan dan memperbarui ikatan itu dengan kesegaran hati adalah hal yang sepatutnya kita nafasi bersama. Berlombalah untuk saling mendengarkan, bersegeralah untuk berbagi peduli, saling mendahului menyapa, ataupun menghiasi hubungan dengan bertukar hadiah. Karena bagaimanapun juga, setelah kesadaran bahwa ketidakmampuan kita untuk melakukan semuanya sendirian, juga bahwa ternyata peningkatan kedewasaan bukanlah keinstanan personal, serta ternyata lingkungan sangat menentukan cerminan kualitas kita, persahabatan dengan orang yang mampu bersinergi mengumpulkan kebaikan dari akumulasi karakter yang beraneka ragam adalah salah satu amunisi pertahanan yang membuat kita tangguh selama ini. Persahabatan itu pulalah yang membuat makna kata "tanggung jawab, komitmen dan konsistensi " selamanya menjadi pedoman kita. Persahabatan itu jugalah yang membentuk penuhnya pemahaman kita, bahwa menuju peradaban yang lebih beradab, kita masing-masing harus senantiasa berusaha menjadi insan kamil dengan cara saling bertukar semangat dan ilmu.


    Memupuk dan menguatkan persahabatan, berbanding lurus dengan menyulam kepercayaan di dasar pemersatunya. Karena pentingnya kepercayaan, rasa mempercayai dan dipercayai, adalah modal utama, minimal bagi dua orang yang mengikat hatinya dalam lingkaran persahabatan. Bayangkan betapa indahnya, bila kelak kita telah renta, menceritakan kepada anak cucu kita tauladan persahabatan sepanjang masa, dengan orang yang saling memegang teguh janji, menyimpan rapat rahasia dan berbagi segala harumnya bunga kehidupan. Kepercayaan berkaitan dengan kesetiaan, kesetiaan mencerminkan kepingan kalbu kita, sedangkan kalbu ataupun hati itu sendiri, adalah sesuatu yang tidak mengenal kata kebohongan, setidaknya bagi kita sendiri. Bencana bagi persahabatan adalah jika terperosok dengan lingkaran rantai yang berkorosi karena pengkhianatan dan pengingkaran dari kejujuran. Mungkin tidak secara langsung disadari ataupun dikehendaki, namun jika telah keluar jalur komitmen dan loyalitas, maka bersiaplah menghadapi kekecewaan hubungan. Pengkhianatan ataupun mulai tidak jujur itu sendiri, biasanya diawali ketika suatu saat sebuah persahabatan harus dihadapkan dengan sebuah keadaan yang memerlukan pengkajian yang mendalam, sedangkan situasi tersebut lebih banyak memuat kesulitan dan perbedaan yang menjurang dengan prinsip yang selama ini dianut. Akibatnya bisa menuju dua arah, intropeksi kolektif yang berujung pada hikmah kebenaran satu poin yang dijadikan tambahan ilmu, atau bahkan pemutarbalikan fakta menuju penggiringan opini demi menyelamatkan gengsi individu. Hal terakhir inilah yang mengawali sebuah ketidakjujuran pada persahabatan, dan bila tidak segera diatasi, cepat atau lambat, sedikit demi sedikit, akan berubah menjadi pengkhianatan suatu hubungan. Hingga kegetiran retoris akan terdengar miris bergemerisik di nurani kita, “Walaupun sebenarnya yang usang bukanlah ikatannya, akankah layu sebuah komitmen karena lapuknya integritas hati?”


    Mungkin ada baiknya jika kita merujuk Hadits Rasulullah SAW :"Tiga perkara yang mengeratkan persahabatan dengan saudaramu yaitu memberi salam apabila bertemu dengannya dan menyediakan tempat duduknya dalam sesuatu majelis serta panggillah dia dengan nama yang paling disenanginya." (Riwayat At-Tabrani). Disunnahkan pula untuk senantiasa berkata baik dan bermuka manis, serta saling menasehati dengan memperhatikan kaidah berhemat dalam bernasehat demi penjagaan dari situasi kebosanan. Melakukan Sabda Baginda Rasul tersebut di atas jika didukung dengan lekatnya persuaan dan dekatnya jarak, tentu akan sangat memuluskan peranan kita sebagai sahabat yang setia. Namun, berbeda sekali jika sahabat terpisahkan jarak ruang dan waktu. Solusinya mungkin terasa klise, namun dahsyatnya Rabiththah dan peran komunikasi dari hati ke hati, jiwa ke jiwa dan rasa ke rasa adalah jalan tol menuju pemeliharaan ikatan persahabatan. Beruntung sekali kita hidup di zaman serba mudah dengan keinstanan interaksi menjanjikan, hingga seolah tiada kata bosan bagi para sahabat yang berbeda jarak tempuh untuk menggali kedekatan hati melalui berbagai fasilitasnya. Bisa jadi suaranya yang bening nun jauh di seberang sana lewat hand phone berhasil meluluhkan kepanikan rasa sepi kita, bisa pula keceriaan celotehannya lewat SMS mampu menaburkan bunga kebahagiaan dalam batin kita, hingga mungkin kita tak akan pernah tahu kapan akun Facebook kita kadaluwarsa karena begitu detailnya memperhatikan perkembangan para sobat dekat dalam kesehariannya. Namun pada poin terakhir tulisan ini, saya ingin merangkul para pecinta persaudaraan sejati di ladang Rabbani untuk bersatu dalam Rabiththah (doa pengikat hati) dan ketahuilah, bahwa kata - kata ana uhibbukum fillah itu adalah sapaan termanis serta do'a yang menghangatkan jiwa kita.



    Blitar, 10 April 2010
    Rasakan bedanya, insting persahabatan sejati biasanya sudah langsung terasa bisa jadi bahkan ketika awal perjumpaan. Dunia memang terlalu sempit untuk petualang, namun akan sangat lapang (peluangnya) bagi pencari paguyuban hati dan perindu persaudaraan komitmen.