Antologi Saya yang Kedua : Anak Nakal atau Banyak Akal?





Alhamdulillah,telah terbit antologi kedua saya bersama penulis ciamik lain ^^


Judul Buku : Antologi Anak Nakal atau Banyak Akal

Penulis : Eni Martini, Leyla Imtichanah, Najmatul Jannah, Viana Akbari, dll

Penerbit : Elexmedia Komputindo

Fresh From Oven! Terbit Mei 2012 ^^

Harga : Rp. 38.800,-

Sinopsis :

Kreativitas anak kadangkala tak sejalan dengan pemikiran dan keinginan orang tuanya. Ketika ayah bunda hendak beristirahat sejenak, anak dengan riangnya mengajak main ini itu; membuat ulah begini begitu; hingga sering membuat gemas bahkan emosi sampai ke ubun - ubun ^^


Anak hanya butuh wahana dan apresiasi positif dari orang tua dan lingkungan terdekatnya. Tetapi, layakkah tingkah mereka mendapat predikat 'Nakal' dari kita?


Mari bersama kita resapi tiap keluguan, kecerdasan dan kreativitas tiap anak dari tiap penulis buku ini. Mungkin saja pernah Ayah Bunda alami tatkala bersama para buah hati ^^


Telah tersedia di toko buku seluruh Indonesia (Gramedia,Togamas,dll).


Pssst.... Ada cerita tentang polah tingkah menggemaskan putri kami,Aiko Nabila Hasna di sana loh. Berikut cuplikan kisahnya ^^


'Kerja keras’ Aiko menuai panen. Tembok rontok dimana – mana. Tentu saja karena dia tekun mempretelinya. Belum termasuk coretan – coretan panjang krayon, yang dipinjamnya dari adik bungsu saya.


Coba saja, seandainya itu kami yang melakukan (saya dan adik – adik). Pastilah tangan kami sudah merah digetok pegangan sapu oleh Ibu.


Tetapi ini Aiko. Bapak hanya menutup wajah histeris.


“Tidak....!!! Rumahku!!”. (Hehehe... Lunas sudah hutang masa laluku :p)


Walaupun sebenarnya, jauh sebelum aksi itu, kami sudah membekali Aiko dengan setumpuk kertas bekas dan krayon maupun spidol warna – warni. Namun, Aiko tetaplah Aiko. Tak puas rasanya, jika belum menggambar sekaligus mempreteli tembok rumah kakek neneknya.


Penasaran kan, Yah? Bun? Buruan beli ya :-)

Sekali lagi, telah ada di toko buku Gramedia dan Togamas seluruh Indonesia ^^

Buku Antologi saya yang Pertama ^^



Alhamdulillah, sudah terbit...

Buku antologiku yg pertama nih ^^

Antologi a Sweet Candy for Teens
Disusun oleh : Leyla Hana, Sapto Rini, dkk
Penerbit : Elex Media
ISBN / EAN : 9786020018102 / 9786020018102
Jumlah Halaman : 212
Berat Buku : 225 gram
Dimensi( pxl ) : 210 mm x 140 mm
Published Date : Rabu, 1 Februari 2012
Harga: Rp 38.800
Sudah beredar di seluruh toko buku di Indonesia


Sinopsis

Remaja adalah pribadi yang unik, berada di dua arus yang saling tarik-menarik, masa kanak-kanak dan dewasa. Di satu sisi, mereka ingin mengambil keputusan sendiri karena merasa sudah dewasa, di sisi lain, orang dewasa (guru dan orang tua) merasa bahwa keputusan yang diambil oleh anak-anak mereka patut diragukan.


Sering kali, kesalahan mengambil keputusan akibat kurangnya arahan, membuat mereka mengorbankan masa depan. Misalnya, saat tergoda oleh pesona cinta pertama, sehingga mengorbankan kehormatan diri. Remaja juga membutuhkan dukungan meraih cita-cita, di tengah belitan kesulitan hidup dan ketidaksetujuan orang tua akan jalan hidup yang diambil.


Dan akhirnya, keputusan untuk menikah di usia muda, lebih sering membuat rasa tidak senang pada orang tua, karena dianggap akan menghancurkan masa depan.
Kisah-kisah di buku ini adalah kisah nyata dari para penulis dan orang-orang terdekat mereka, yang berhasil melalui masa remaja mereka dengan cemerlang; melewati kisah cinta pertama dengan arif, berhasil menggapai cita-cita meski tak selalu sama dengan rencana semula, dan tetap sukses menjadi orang dewasa yang mandiri meskipun memutuskan untuk menikah di usia muda

Resensi Film : Knight and Day




"Suatu hari adalah kata yang berbahaya. Itu hanyalah kata lain untuk 'takkan pernah'. Aku banyak berpikir soal hal yang belum pernah kulakukan.



Menyelam di Great Barrier Reef. Mengendarai Kereta Orient. Tinggal di Pesisir Amalfi hanya dengan motor dan tas ransel..."





Ungkapan di atas, terdapat pada dialog yang terjadi di dalam pesawat menuju Boston antara seorang gadis bernama June (Cameron Diaz) dan Roy Miller (Tom Cruise). Ketika itu, mereka saling bercerita tentang impian hebat yang belum pernah dilakukannya.





June adalah penyuka restorasi mobil tua, dengan membawa sekopor penuh kaburator, knalpot dan pengering rambut merencanakan terbang ke Kota Boston tempat April, adiknya akan menikah. June datang dua hari lebih awal untuk fitting gaun pengiring pengantin, sekaligus menyelesaikan rakitan mobil tua peninggalan almarhum ayahnya.





Pada pembuka film ini, kita akan melihat beberapa kali June tak sengaja bertabrakan dengan Roy Miller di bandara, saat menunggu keberangkatan pesawat mereka. Belakangan, June baru sadar, bahwa peristiwa tiga kali bertabrakan itu, sebenarnya telah direncanakan oleh Roy.





Sempat hampir mengalami penolakan, dengan alasan pesawat sudah penuh, akhirnya June mendapatkan haknya untuk naik penerbangan ke Boston hari itu. Ternyata, tak seperti yang dikatakan pihak maskapai, pesawat yang ditumpangi bersama June hanyalah beberapa lelaki dan kru pesawat saja. Salah satunya adalah Roy.




Ungkapan mendalam yang dilontarkan Roy pada awal resensi ini, menimbulkan kekaguman di hati June. Hingga di suatu kecelakaan kecil, pesawat bergoyang sedikit dan mengakibatkan koper gadis itu hampir jatuh. Sigap Roy menangkapnya., hingga tak sengaja mebuat kemeja June ketumpahan air minum. Segera saja dia ke toilet untuk membersihkannya. Di sinilah ketegangan bermula.





Tatkala June melakukan monolog dengan kaca toilet sembari membersihkan kemejanya, berbicara dengan dirinya sendiri tentang betapa hebat seorang Roy. Di menit yang sama, Roy bergulat dengan seluruh penumpang dan kru pesawat (termasuk pilot serta pramugari), bahkan hingga terjadi baku tembak.





Ketika June memikirkan langkah apa yang akan dilakukannya, terkait perkenalan dan percakapan singkatnya dengan Roy, sang lelaki idaman justru sedang berusaha keras melindungi diri mereka berdua di balik pintu toilet itu. Roy lantas mendudukkan seluruh penumpang dan kru pesawat yang keseluruhannya telah tewas akibat baku hantam yang sebenarnya tak imbang, hingga sekeluarnya June dari toilet, seolah tak terjadi apa - apa.





Menariknya, June memang benar - benar tak menyadarinya, hingga pada suatu waktu gadis itu sadar. Hanya dirinya dan Roy, penumpang yang masih hidup di pesawat itu, karena kedua pilot telah ikut mati tertembak pula.





Peristiwa demi peristiwa menyusul kemudian. Perebutan sebuah elemen sumber tenaga yang disebut dengan Zephyr adalah penyebabnya. Tak tanggung - tanggung, mulai dari kelas mafia hingga agen mata - mata sekelas FBI memperebutkan benda ini. Roy Miller, terlibat di dalamnya.





Cairan bernama Brotine - 5 juga akan sering muncul. Karenanya, June sering tertidur dan bangun di tempat yang berbeda - beda.





Knight and Day, adalah film aksi yang berbalut drama khas Hollywood. Penuh dengan petunjuk - petunjuk singkat dan bernuansa cepat. Simpul petunjuk itu, memang terkesan sederhana, namun berhasil membuat penonton penasaran hingga akhir kisahnya.





Bagi penikmat romansa, utamanya warga belahan dunia timur laiknya Indonesia, takkan kecewa dengan film ini. Paling banter, adegan intim yang terjadi antara June dan Roy adalah ciuman saja. Berbeda dengan kebanyakan film percintaan Hollywood yang sarat dengan selimut dan ranjang (hehe kayak udah pakar aja, tapi beneran emang langka jenis film Amrik yang santun seperti ini. Beberapa kali, saya menemukan Changelling, Salt dan Love Happens saja yang lolos sensor, di luar animasi dan kartun. Mungkin masih ada lagi, tapi belum saya tonton hihi).





Intinya, penekanan keromantisan antara June dan Roy banyak dieksplorasi oleh beberapa ungkapan ataupun berbagai bentuk pengorbanan bagi versi masing - masing kedua tokoh.





Masalah aksi, juga tak mengecewakan, meskipun kita tak bisa juga membandingkan Knight and Day dengan Mission Imposible, Die Hard maupun Charlie Angels yang spesifikasinya memang aksi laga.





Bisa disebut sebagai kekurangan, jika kita menggunakan komparasi kebanyakan film tentang agensi spionase belakangan. Jarang yang happy ending. Salt misalnya, Evelyn Salt (Angelina Jolie) harus kehilangan suaminya yang dibunuh agen spionase Rusia. Ataupun Hitman, yang tak semudah itu bersatu dengan gadis idaman sang mata - mata. Namun, balik lagi karena Knight and Day berusaha meramu percintaan dengan laga, penonton dijanjikan senyum pada tiap scene.



Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah ini? Bagaimana pula Roy menjelaskan kepada June, seluruh peristiwa yang terjadi di dalam pesawat itu? Apakah gadis itu percaya pada penjelasannya? Apa pula hubungan Roy dengan Matthew Knight, seorang tentara yang telah meninggal di Kuwait?



Silahkan, Moms dan sista semua hunting di persewaan setempat atau mengunduh juga bisa. Lebih asyik ditonton bersama suami, romantis dan seru euy... (pengalaman hehe)





"Hari apa ini?"

"Ini suatu hari..."





Dibuat di Blitar, 5 Nopember 2011

Najmatul Jannah

Resensi Buku : Muhammad (Lelaki Penggenggam Hujan dan Para Pengeja Hujan by Tasaro GK)







Judul Novel : Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan dan Muhammad : Para Pengeja Hujan

Penulis : Tasaro GK

Penerbit : Bentang Pustaka

Cetakan : 2010 dan 2011

Tebal : 2 x 500 an hal



Novel Biografi adalah bacaan baru bagi saya. Dan Muhammad (Lelaki Penggenggam Hujan dan Para Pengeja Hujan), adalah yang pertama. Penulis terbilang cukup berani membahasakan riwayat hidup Sang Nabi dengan khasanah sastra khas Barat - nya.



Terus terang, saya agak kurang pede meresensi buku ini. Jadi jangan terlalu serius juga membacanya, mohon maaf kalau ada kekurangan sana sini hehe....





Buku novel biografi jilid pertama adalah Muhammad : Lelaki Penggenggam Hujan, (kedua - duanya) menggunakan alur kilas balik. Membaca buku ini, seperti sedang menonton film - film Hollywood kekinian dengan penuturan kisah amat cepat, lumayan menukik dan menyitir komentar dari endoresment Novel Digital Fortress (Benteng Digital) - nya Dan Brown, "Muhammad, membuat pembaca sepakar apapun takkan bisa menebak kisah selanjutnya".



Karena memang unik juga, mengikuti olah pikir Tasaro GK yang begitu jeli menggabungkan kisah kehidupan Rasulullah dari masa kecil, remaja hingga masa kenabian Beliau SAW; dengan pengkondisian begitu epik masa - masa menjelang runtuhnya kekaisaran Romawi, semrawut dan bising perebutan tahta di kerajaan Zoroaster (Persia) antara penghuni kuil pengetahuan dan penguasa kerajaan, surat menyurat dengan Biara Suriah, hingga keheningan Tibet.



Pengemasan alur cerita secara kilas balik, boleh dibilang cerdas. Apalagi dengan kepiawaian Tasaro merajut benang kisah pada tiap babnya yang juga dibuat berselang - seling. Misalnya di bab yang satu membahas kisah Kashva di kuil pengetahuan, maka bab selanjutnya bisa jadi meneruskan kisah Kashva atau bisa pula langsung menyeberang ke Jazirah Arab mengisahkan kehidupan Sang Lelaki Mulia, Muhammad SAW atau para sahabat Beliau. Begitu seterusnya, dengan penggambaran setting tempat yang memukau. Seolah kita sedang berhadapan langsung dengan irisan bukit di Persia, maupun mencicip salju di dataran tinggi Tibet, hingga panas dan pedihnya angin gurun.



Walau bagaimanapun, novel tetaplah novel. (Yang) biografi sekalipun. Apalagi jika spesifikasi tokoh yang kita baca adalah seorang utusan Allah pembawa risalah rahmat bagi seluruh alam. Bisa dibilang, ini adalah upaya positif pengkayaan sastra Islami yang mendidik. Tetapi jangan juga dijadikan acuan belajar mengajar untuk pendidikan Nabawi kita. Karena bukan tanpa tujuan pula, Tasaro mengambil begitu banyak penyunting naskah. Dari jajaran diksi, format kisah, hingga yang paling utama adalah orisinalitas dan kerunutan kisah Rasulullah Muhammad SAW, sang penulis bahkan meminta bantuan seorang hafidzah yang tahu banyak tentang shirah.





Bahkan dari kacamata syar'i saja, jikalau kita pernah dengar : untuk sekelas perawi hadits, selain aplikasi ilmu, akhlak dan kondisi ruhiyah seorang perawi harus berada pada kondisi paling dekat dengan Allah dan Al Qur'an. Dalam contoh terkecilnya, dia harus menjauhi ketidakjujuran. Saya pernah dengar, seorang perawi sempat diragukan keabsahan hadits kajiannya, karena ada seseorang yang melihat sang perawi menipu kuda peliharaannya sendiri agar mau masuk ke dalam kandang. Bahkan, akhlak pada alam pun menjadi pertimbangan.





Masih tentang kandungan syari'atnya. Mungkin, Tasaro sengaja membuka referensi tentang penantian akan Nabi penutup zaman dari hampir setiap keyakinan ataupun agama di berbagai belahan dunia. Jika kita terbiasa mendengar tiga agama samawi terbesar di bumi layaknya, Islam, Nasrani maupun Yahudi, memang benar (bahkan Al Qur'an menyebutkannya), terdapat persengketaan sengit mengenai kenabian Muhammad yang berasal dari Jazirah Arab.



Novel Muhammad, dalam keunikan kisahnya, tak cukup sampai di situ. Tasaro dengan berani menyebutkan Budha (Muhammad SAW disebut sebagai Budha Maitreya), Hindu (Lelaki Penggenggam Hujan) dan Zoroaster (Astvat-ereta), sebagai keyakinan lain yang menanti pula kehadiran sosok mulia ini. Padahal, sebagai seorang Muslimah, saya tentu tak bisa menyandingkan Budha, Hindu dan Zoroaster sebagai hasil pemikiran manusia terhadap alam/berhala/materi dengan agama tauhid yang mengesakan Allah SWT. Wallahu alam.





Ya, saya yakin, penulis tidak bermaksud seperti itu. Tetapi menurut saya, seharusnya proporsional. Bahkan kalau Tasaro memang mengunggulkan sisi kenabian Rasulullah, prosentase kisah novelnya seharusnya lebih dominan Islam, setidaknya 3 agama samawi, daripada yg ardi (keyakinan hasil perenungan manusia). Tetapi sepertinya, buku ini justru hampir separuhnya menceritakan perjalanan Khasva, which is, dia seorang Zoroaster. Yang kemudian berkelanan ke India (Hindu) dan Tibet (Budha). Selang - seling kisahnya dengan Rasulullah menurut saya kurang adil juga buat penempatan Islam di dalamnya.... Maka ya, sekali lagi, ini hanya resensi. Meanwhile, novel tetaplah novel. Bukan shirah. jadi hanya utk hiburan, bukan keyakinan ^^



Intinya, novel ini memang bacaan yang cukup indah untuk hiburan wisata pikiran kita tentang eksotisnya jaman pertengahan. Pada sisi terekstrimnya, tak mungkin pula kita harus sedikit - dikit membaca shirah sembari membaca dua jilid Novel Biografi Muhammad yang tebalnya 2 x 500 an halaman ini (bisa puyeng dong hehe).



Penasaran baca buku ini? Selain budget agak lumayan, siapkan juga waktu luang. Karena tak mudah baca dua jilid novel hampir seribu halaman dengan aktivitas sebagai seorang ibu dan pegawai loh hihi...



Selamat membaca ^^

Arloji Mama

Tik... Tak.. Tik... Tak...

Waktu, bagi Ina adalah kenangan.... Senantiasa mengingatkan gadis kecil itu pada kehangatan pelukan Mama..

Waktu, bagi Ina adalah penyembuh... Mengobati kerinduannya pada sang ibu.

Waktu, adalah nafas... Memberikan kesegaran, agar Ina tetap tersenyum melewati hari itu.


Ina, putri pertama dan satu - satunya Pak Yunus. Bu Intan, istrinya, meninggal tatkala Ina baru berusia lima tahun. Bahkan itu adalah hari pertama Ina memasuki gerbang Taman Kanak - Kanak.

Kala itu, Ina tak tahu kalau Mama telah tiada. Papa hanya bilang, Mama kini tengah memetik beberapa butir bintang. Papa mengucapkannya sambil sesekali mengusap air yang menggenang di sudut mata.

Mama mengalami kecelakaan setelah mengantarkan Ina sekolah, di hari pertama dia menjadi siswi TK.


Papa tak tega, kala Ina gelisah beberapa malam kemudian. Kebiasaan Mama memang bercerita tentang bintang sebagai pengantar tidur. Sambil bercerita, Mama memperdengarkan detak - detak arloji kuno pemberian Kakek. Tik..Tak..Tik..Tak..







Tidak butuh berapa lama, Ina lantas tertidur.


Kini setelah Mama memetik bintang, dan Ina hanya bersama Papa, maka sang ayah yang ganti bercerita untuknya. Juga sambil memperdengarkan detak arloji itu. Meski kelembutan dan kemerduan suara Mama tak tergantikan, namun sudah cukup memberi kenyamanan pada Ina. Tik... Tak...Tik..Tak...


Papa mengizinkan Ina membawa arloji kuno itu. Ke sekolah, saat berlibur di rumah Kakek dan Nenek, ataupun kala Ina berkemah ketika kelas 2 SD. Bahkan Papa menempelkan foto Mama di arloji itu. "Ina do'akan Mama ya, supaya kebahagiaan dan Rahmat Allah senantiasa menyinari Beliau", ungkap Papa lembut. Ina tersenyum tulus.

Arloji kuno itu selalu bersama Ina. Menemaninya melewati hari - hari penuh keceriaan. Juga kala Ina sedih dan kembali merindukan Mama, memang tak pernah tercukupi walau arloji itu dipeluknya erat. "Mama... Ina kangen sama Mama. Jangan lupain Ina ya,... Suatu saat, kita akan bertemu dan memetik bintang bersama kan? Mama, Ina kangen..."

Arloji berhiaskan foto Mama itu tetap berdetak lembut, dan Ina hanya bisa menangis lirih. Tik.. Tak... Tik... Tak...

Saat - saat mendebarkan bagi Ina adalah jika mendadak arloji tua itu berhenti berdetak. Bila sudah demikian, Ina akan berlari dan menangis sesenggukan pada Papa. Untungnya, Papa sangat pintar memperbaiki mesin dan beberapa peralatan. Tak lama kemudian, arloji itu kembali berdendang untuk Ina.


Ina dan arloji kuno milik Mama adalah sejoli. Mereka seolah tak terpisahkan. Karena waktu, bagi Ina juga bermakna sahabat dekat. Waktu, bagi Ina, juga berarti kesetiaan dan cinta. Bersama waktu, dia selalu menitipkan cintanya buat Mama.

Tik.. Tak... Tik... Tak...


Blitar, 18 Maret 2011
Najmatul Jannah

Hujan

Masih berdenting...
Ketika gerimis sendu mulai membasahi galau
Ianya bertanya - tanya..


Bilakah kita bersama?


Maka tatkala mendung menumbuk keperihan dan bahagia menjadi satu..
Berdebar saja tak cukup membungkus pilu
Dengan gerimis mulai mendentingkan nyanyian jiwa...

Tik... Tik... Tik..


Masih berdenting...


Hingga guyuran rinai - rinai air itu membentuk pula gelisah...





Mendung lagi, gerimis lagi..
Kenapa hujan, selalu beserta pertanyaan?

Masih berdenting...

Ianya mengharap cahaya..
Jikalau teguh, kan terbit semburat pelangi...


Tik.. tik.. tik...
Masih berdenting


Bilakah kita bersama

Akankah kita bersua?

Anakku...


Blitar, 18 Maret 2011
Najmatul Jannah

Mimpi Ummi


Membaca catatan Mbak Jazimah Al - Muhyi membuatku tersentil... Ah tidak, lebih dari tersindir tepatnya. Kecuali pada bagian penulis terkenal yang padat agenda semasa lajang dan kepiawaiannya dalam menulis tentu saja (hahaha), aku merasakan persamaan kisah dengan Beliau.





Bahwa pernikahan dan memiliki anak di usia muda, (tadinya) bukanlah target utamaku selepas kuliah.





Trauma ?? Well, I not think so. Untuk apa? Masing - masing orang mempunyai Penjaga Kisahnya. Namun yang tak kalah penting, kita juga berhak berhikmah atas kisah tersebut, lantas mengurainya menjadi garis hidup yang paling sesuai dan optimal bisa diusahakan. Weiissss... Beribet banget bahasanya hehehe...





Terlalu banyak menjejali diri dengan kriteria 'prototype seorang Pemuda Muslim'? Ah, nggak juga. Justru dulu Ibunda sering menganggapku skeptis terhadap laki - laki, hingga ketakutan Beliau terlontar tatkala ide 'pelarian diri' itu muncul. Aku sempat ingin kuliah S2 dulu dan baru memikirkan pernikahan di atas usia 25 tahun. Mungkin, itu tidak linear dengan sejarah pernikahan usia muda yang Beliau lakoni di masa lalu hehehe...





Atau, ini tentang loyalitas? Penantian atas sesosok figur? Hahaha.... Aku memang seorang melankolis sanguinis, tapi bukan penggemar fatamorgana. Pada akhirnya kutemukan 'sisi cermin jodoh' dengan Mas Ahmad beberapa waktu kemudian. Kami sama - sama memiliki masa lalu yang kompleks, namun menjadikan lebih bijak merajut langkah ke depan.





Lantas apa?





===000OOOO000===





Mungkin, setelah kuuraikan sendiri, ini tentang 'kenyamanan kita' terhadap wilayah mandiri semasa lajang. Well, inilah bagian persamaanku dengan Mbak Jazimah. Jika tentang memiliki suami, mungkin aku masih memiliki banyak perbendaharaan kata cinta serta attitude kewanitaan khas yang tak usah terlalu banyak dieksplorasi (haha, sekali lagi karena keromantisan seorang melankolis). Namun, tidak dengan mengasuh anak.





Aku tak suka anak - anak, berlama - lama, apalagi mengasuh mereka. Utamanya bayi. Ini terbukti ketika adik ketigaku lahir. Rafif nyaris tak dekat denganku pada 5 tahun pertamanya. Mungkin aku bisa berdalih, karena ketika itu sedang kuliah. Namun, tatkala cuti di rumah, kebersamaan itu hanyalah jalan - jalan ke toko berdua dengannya atau kadang menyuapi Rafif makan saja. Selebihnya, jangan harap Rafif bisa memasuki kamarku dengan leluasa. No! It was very annoying for me!





Sungguh berkebalikan dengan Ayik, adik keduaku. Dia malah lebih bisa berperan sebagai kakak bagi Rafif. Ayik jauh lebih tomboy dan cuek daripada aku, tapi naluri keibuannya malah lebih bersinar.





Makanya, mungkin bisa dimengerti sekali (idih, maksa hehe), jika aku mendambakan sosok pendamping yang pendiam, kalem dan pecinta anak - anak. Ya.. ya... aku tahu ini egois sekali. Tapi, setelah berbagai kekhawatiran dan jerih payah Ibunda mencarikanku jodoh ( aih, manja banget pake dicariin segala...hehe..biarin :p ), kasihan juga kalau sampai Beliau melihat cucunya diasuh oleh ibu tak becus sepertiku.





Setidaknya, jika aku tak bisa dan tak terampil mengasuh anak, tapi suamiku mencintainya sepenuh hati.





Eits! Tunggu dulu! Ini belum tentang 'kemahiranku' di dapur. Dulu, aku lebih memilih aktivitas mencuci piring, menyapu dan menata perabotan rumah saja daripada harus berpusing - pusing menghafalkan bumbu dapur dan berbagai menu itu. Sekali lagi, Ayik tampil berbeda. Bisa kurasakan binar mata bahagia Ibu kala berhasil mendidik Ayik sebagai wanita sejati..haha.. Sungguh mengenaskan!





Di usia yang hampir sebaya (kami hanya berjarak 2,5 tahun saja), namun kemampuan 'chef' antara aku dan Ayik malah berkebalikan. Kala aku masih bingung bagaimana caranya menanak nasi (gak pake magic jar loh!), Ayik malah sudah bisa membuat sayur santan sekaligus sambal terasi sedapnya. Kala aku sibuk menggoreng tempe hingga gosong dan selalu gagal membuat sayur sop yang pas takaran bumbunya, Ayik mempesona dengan berbagai varian lauk itu. Hingga aku tampil begitu konyol, karena tiap kali Ibu mengamanahi kami berdua memasak bersama saat Beliau harus keluar kota atau sibuk dengan tugasnya sebagai guru, aku memasukkan bumbu - bumbu itu di bawah arahan dan panduan Ayik.





Makanya, tatkala seorang Ustadzah menyatakan niatnya untuk memproses diriku dengan seorang pemuda, dalam hati ku berkata, "Ya Allah, aku yakin yang Beliau ajukan itu adalah sosok shalih dan sabar. Tapi aku mohon pada Mu ya Allah... Semoga kelak sosok ini juga menerimaku apa adanya. Semoga dia juga bersabar karena aku masih saja tak pandai membuat sayur kesukaanku sendiri. Juga, semoga dia gak doyan pedas, karena asli sambal buatanku gak enak banget!"





===000OOOO000===





The Wedding Day... Oke, Alhamdulillah kami berhasil melewatinya. Bukan tanpa masalah, bahkan hingga beberapa bulan setelah pernikahanpun, adaptasi - adaptasi itu tak pelak sering memberi warna tersendiri bagi kedewasaan kami. Namun, aku yakin, bahwa pernyataan do'a Mas Ahmad padaku, "Ana uhibbukifillah" itu yang kemudian menyejukkan sekaligus menguatkan kami berdua.





The Harmony.... Ternyata, do'a itu terkabul! Alhamdulillah, hingga sekarang, Mas Ahmad tak (berani) kecewa dengan berbagai masakan pribadi yang kusuguhkan padanya. Bahkan, aku nyaris terbang ke awang - awang, kala kerap dia dengan tulus minta kuajari cara membuat nasi goreng ataupun omlet mie kesukaannya hahaha... Padahal, menurut Ibu dan adikku, rasanya biasa saja! Alhamdulillah pula, Mas Ahmad gak doyan pedas, tidak untuk sebiji lombok pun! Well, tapi aku tak berpikir bakal rugi kala tetap 'kursus' ke Ibunda membuat berbagai varian sambal sedap itu..



The Gift... Ini yang paling sulit. Aku kuat menghadapi masa kehamilan kala mengandung Aiko. Betapapun beratnya saat - saat ketidakberdayaan karena 'emesis' itu, sugestiku yang kuat selalu bisa 'memaksa' untuk tetap makan dengan porsi lebih banyak dan beramal yaumiah lebih berlipat dari biasanya.



Akan tetapi, tiap saat, muncul kekhawatiranku. Bagaimana kelak setelah masa persalinan? Apakah aku mampu menjadi Ibu yang baik untuk bayiku? Terlalu jauh jika ingin menyamai Ibunda, tapi setidaknya, aku ingin memberikan yang terbaik untuk si kecil kelak.





Dan ternyata, benar saja... Hingga dua minggu setelah persalinan, Bapak dan Ibu sampai menginap di rumah kami untuk bergantian berjaga mengganti popok Aiko. Aku melahirkan secara normal, bisa kurasakan banyaknya jahitan pada jalan lahir itu. Sungguh perih untuk bergerak sedikit saja. Aku yakin, semua yang melahirkan secara alami pernah merasakannya, walaupun tidak semua mengalami proses penjahitan itu.





Bapak dan Ibu tampaknya sangat memahami adaptasiku sebagai First time Mother. Maka bergantian dengan Mas Ahmad, mereka merawat Aiko tiap malam. Bahkan, aku begitu dimanja, karena hanya dibangunkan kala Aiko minta minum ASI saja.





Pagi harinya? Sama saja. Aku masih ketakutan untuk memandikan dan mengganti baju Aiko. Kalau mengganti popok saja masih bisa, tapi melepas dan mengganti atasannya?... Aww!!! Aku khawatir dengan gaya serampangan yang bisa menyakiti bayi mungil itu.





Hingga kapan ini berlangsung? Dua bulan! Ya, baru dua bulan kemudian aku berani memandikan dan mengganti baju Aiko. Baru dua bulan kemudian aku berani menggendong Aiko tanpa bantuan siapapun. Juga, ketika Mas Ahmad mabit bersama teman - temannya selama dua hari kala Aiko berusia tiga atau empat bulan, aku sudah berani menolak tawaran Ibu menemaniku merawat Aiko... Walaupun, ujung - ujungnya di tengah malam, Mas Ahmad masih gak tega dan menjenguk kami berdua beberapa jam lamanya hehehe...





Ibunda banyak tertawa miris melihat caraku mengasuh Aiko. Menggendongnya dengan gaya yang masih sangat canggung, mengganti popok dengan cekidah cekidih, hingga memandikan dengan kaku sekali. Bahkan Bapak sampai berang tatkala Beliau tahu aku tak sengaja membuat Aiko 'menggelundung' dari tempat tidurnya dan 'nyungsep' di bak yang memang kusiapkan sebagai penampung pipisnya tiap malam. Huhuhu... Aiko cantikku nyemplung ke air pipisnya sendiri. Aku menangis berjam - jam ketika itu, menyesali kebodohan dan ketidakbecusan sebagai Ibu.







Bahkan, dengan ketidakpiawaian sebagai seorang Ibu ini, kadang tersimpan kejenuhan. Mungkin memang benar, tidak akan pernah ada kata siap pada sebuah pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Yang ada hanyalah kemampuan hati dan jiwa untuk beradaptasi dengan proses pendewasaan.





Masih sempat saja aku tertekan karena tak bisa melakukan aktivitas yang sudah menjadi nafas dalam keseharianku senyaman dulu. Menulis (walaupun ecek - ecek) dan membaca. Juga minatku pada aktivitas hang out. Meskipun aku tidak terlalu suka keluar rumah, tapi setelah melahirkan, tiba - tiba aku selalu ingin rekreasi, kemanapun.





Meskipun jenuh dan kerinduan menulis serta membaca begitu mengakar, tapi tidak bisa mengurangi kadar perhatianku pada Aiko. Aku sukses memberikan ASI eksklusif 6 bulan tanpa bantuan makanan pendamping atau susu formula. Aku sukses pula menjadikan Aiko mandiri hingga jarang ngompol dan lepas dari dotnya di usia 2,5 tahun, beberapa bulan setelah penyapihannya.





Aku tidak melarikan diri dari semua tanggung jawab itu. Hanya saja, aku merasa jenuh. Hingga mungkin kejenuhan penat itu terbaca oleh Ibu dan suamiku. Nasehat senada mereka kemudian menyadarkanku.





Bahwa, aku takkan bisa mengganti saat - saat bersama Aiko dengan momen apapun. Dan, ternyata, justru saat - saat di periode emasnya inilah (0 - 3 tahun) yang paling berharga untuk Aiko sekaligus paling membekas baginya, hingga mencetak pendirian anak itu, apakah aku layak dicintai sebagai Ibu ataukah tidak.





Aku memang bukan Ibu yang mahir, tapi aku tak mau kehilangan cinta Aiko. Dan akupun jadi teringat dengan target jangka panjang pribadi yang kubuat di buku harian saat lajang. Aku pernah terpikir untuk pensiun dini, karena ingin total berperan sebagai Ibu.





Ternyata, aku salah menilai diri sendiri selama ini. Dulu, aku menganggap tak akan pernah memerankan kesejatian wanita. Namun, ternyata aku telah mencintai dan mempersiapkan diri untuk anak - anakku kelak, bahkan sebelum mereka lahir.





Demi membaca buku harian itu, aku tergugu. Hingga berulang kali aku mendoakan kekayaan dan kesuksesan usaha bagi Mas Ahmad, agar lebih mudah mewujudkan mimpi itu. Karena aku tak ingin pula kehilangan masa remaja Aiko dan adik - adiknya kelak.





Hingga motivasi ini pulalah yang akhirnya menetralkan kejenuhanku. Layaknya Mbak Jazim yang berterima kasih pada Mark Sang Pelopor Facebook, ini juga yang menjadi persamaanku dengan Beliau. Selain beberapa lomba penulisan essay maupun cerita pendek, termasuk berulangkali mengikutsertakan satu – satunya novelku ke dalam berbagai kompetisi penulisan novel (dan selalu berakhir hanya sebagai ‘nominasi’ saja hahahaha…..). Jika luang, hanya perlu 1 jam saja untuk menuliskan sebuah atau dua buah catatan ringan dan singkat tentang keseharianku sebagai istri, ibu, Muslimah maupun PNS wanita.





It absolutely cures me, really! Hanya satu jam saja untuk menulis, aku bisa mengikis kejenuhan itu dan seperti pegas…. Melesat jauh berenergi, melebihi sebelumnya ketika dimampatkan untuk mengeksplorasi ide menulis. Energi ini pulalah yang senantiasa memupuk semangatku untuk tetap setia dan sepenuh jiwa mendampingi Aiko maupun insyaAllah adik – adiknya kelak.



Rasa terima kasih saja tak cukup pada suamiku tercinta, Mas Ahmad, yang telah begitu setia mendukung potensiku ini. Termasuk di antaranya memfasilitasi modem andalan agar kapasitas menulisku semakin terasah. I always love the way you love me, Popu ^^





Finally, about my dreams… Kuakui, betapa terombang – ambingnya hati ini kala berbagi jasad antara rumah dan kantor. Aku bukannya tak mencintai pekerjaanku. At least, untuk saat ini.



Tanpa bermaksud mencari pembenaran, aku yakin hampir keseluruhan Ibu muda yang berkarir, merasakan hal serupa. Meskipun, tidak semuanya menginginkan solusi yang sama sepertiku. Namun, pasti mereka yang memiliki naluri keibuan dan ‘terpaksa’ berkarir demi membantu perjuangan suami, (bisa juga berdakwah di ranah masing – masing), memiliki empati yang lebih tinggi pada anggota keluarga yang ditinggalkan.





Untungnya, suamiku selalu tersenyum hangat tatkala melepasku bekerja, bukan tersenyum syahdu penuh haru hehehe… Alhamdulillah, Aiko senantiasa ceria kala mencium tanganku sesaat sebelum berangkat kerja. Yah, meskipun harus dirayu ataupun diajak putar – putar kompleks rumah kami dulu hehehe…





Akan tetapi, tetap tidak salah kan, kalau aku ingin menggenggam erat mimpi itu hingga terwujud?





Semoga... Perkenankan Ya Allah ...


Blitar, 8 Maret 2011

Najmatul Jannah

Teruntuk Aiko dan adiknya, jika Allah menghendaki.
.

Jawaban saya untuk pesan seorang sahabat ^^




Muslimah itu bukannya kolokan, Dear..

Bukan pula ketinggalan jaman kayak kurungan ayam ^^

Saya masih suka beli gamis, setelan ataupun jilbab warna warni..

But, the rule is about The 2 S..

Size and Style..

Plus, kalau dah menikah, selera suami juga bisa jadi patokan



# Size ===> minimalisir ukuran minimal





Maksudnya bukan kita pake baju yang selalu kedodoran, jadi keliatan kayak pinjem punya Ibu kita ^^ Ukuran ini berkaitan juga dengan kenyamanan. Pas di badan, nyaman di hati gitu .. Mungkin perlu pembiasaan juga. Karena nggak semua muslimah mau legowo dengan anjuran kasih dari Allah dan Rasul Nya. Size ini sudah ada di tiap referensi muslimah. Haqqul Yakin, kita telah mengetahui dan membacanya berulang kali



Intinya, hindari yang terawang (tipis - tipis tak berfuring, atau berfuring tapi masih ada celah tubuh yang keliatan, terutama organ vital kita). Jauhi kesenangan memakai baju ketat dan membentuk tubuh.



Mungkin singkatnya tentang size ini, apa - apa yg disukai suami seutuhnya dari kita, harus diminimalisir untuk dipublikasikan.



Gitu kali ya ^^





# About Style ======> Eksis di tiap jaman dan perubahan model, tanpa harus jadi kormod ^^



Sebelumnya saya pernah melakoni bisnis online untuk produk beberapa merk gamis dan jilbab. Kadangkala kita memerankan diri sebagai model produk sendiri.. It's Okay... Niatkan juga untuk dakwah fashion, agar dapat bonus pahala tersendiri dari Nya.



Mungkin saya hanya ingin merefresh ingatan sahabat Muslimah sekalian pada QS An Nisa' dan Al Azhab yg memuat aturan kerudung. The point is... menutup dada, meski tak harus selalu besar. Memang agak susah sih, apalagi kalau tiap daerah nggak sama toleransinya pada penggunaan jilbab syar'i bagi para birokrat wanitanya.. Tapi, saya mengakalinya dengan menyematkan korpri, name tag dan papan nama langsung di jilbabnya. Lebih enjoy pas berdinas, karena bisa berjilbab senyaman hati, tanpa melanggar aturan ^^





Kalau bersolek.. Yah, jangan kucem - kucem amat. Tetep, perawatan nomer 1, apalagi kalau pengen suami tetep lengket kayak cat dan temboknya hehehe.. Sering membersihkan muka,wajah, perawatan badan dsb. Yakin deh, Para Sahabat Muslimah dah lebih pengalaman^^



Hampir sama dengan size, style kita pun sebagai muslimah, perlu diseleksi lagi. Mana yang bisa ditampilkan ..

Nggak ada yang ngelarang kita senyum selebar dan secantik mungkin. But, kalau bisa, minimalisir ekspresi atau hiasan yang bisa membuat orang menatap kita berlama - lama di luar rumah.. Apalagi, sampai mengundang hasrat non mahram.



Kalau terpaksa sekali, kayak musim pancaroba begini. Saya pake lip balm, yang transparan. Agar bibir nggak pecah - pecah. Tapi suami mana yang gak cemburu, kalau kita lebih cantik tampil di kantor daripada di rumah hehe.. Jadi ya memang, kita lebih aman polosan aja ketika keluar rumah.. Cuma ini juga perlu pembiasaan, bertahap...

Jangan ekstrim dan terkesan mendadak.. Insya Allah akan semakin mantap karena prosesnya alami ^^



Insya Allah, kekinian Muslimah sudah tak lagi berada di tahap dia harus 'memaksakan' kepercayaan dirinya pada identitas mulia selaku pengikut Rasulullah SAW. Suatu 'lompatan' besar bagi seorang Muslimah, jika lebih mengedepankan prestasi dan akhlaknya daripada performa fisik yang mudah lekang dimakan masa ^^



Wallahualam bish showab



Disempurnakan di Blitar, 18 Desember 2010

Muhasabah sekaligus untuk diri sendiri

Semoga selamanya hingga Yaumul Hisab kelak, tetap mengimani Mu, Ya Allah

dan kami para Muslimah Indonesia berhasil mempresentasikan diri sebagai hamba andalan Mu.



-Najmatul Jannah-

Klasik : Patologi Hati Para Penjaga Hati

Aduh... Duh...Duh...Duh!!

Retak sudah hatimu, hatiku...

Tidak, katamu..

Kau bikin berpuing satuan hatimu sendiri...

Tumbuh, merekah, pecah...

Melankolis, Narsistik, Egosentris...



Bukankah itu karakter pikiran setiap perawan?

Betul katanya, .... Tapi bukan alibi



Aduh... Duh...Duh...Duh!!

Retak sudah hatimu, hatiku...

Tidak, katamu..

Kau bikin berpuing satuan hatimu sendiri...

Patologi hati, selamanya kasus klasik





Untuk mengakali kecemburuan beban tugas?? Tidak, kataku...

Tapi, untuk mengelabui jati diri ghuroba itu...

Kau enggan, menjadi... Ah tidak..

Kau enggan, merasa asing dengan tonggak keyakinanmu sendiri





Aduh... Duh...Duh...Duh!!

Retak sudah hatimu, hatiku...

Tidak, katamu..

Kau bikin berpuing satuan hatimu sendiri...

Berhati - hati, artinya perhatian

Satu hati, bermakna kesetiaan??



Apakah pelabuhannya yang salah? Tidak, katamu...





Tapi, ini masalah komitmen..



Aku tak peduli banyaknya pesona di antara sekian sesak nafasmu

Kau bilang kepasrahan... Bukan, kataku..

Ini baru prolog, dari sekian penantian setiap generasi pendakwah



Mereka, tak hanya berbekal hati....

Mereka, tak hanya patah hati....

Mereka, tak sempat memikirkan itu semua....

Mereka, ....... para Mujahid Palestina itu, siap mati...

Masih pantaskah, sekedar insting kau jadikan sangsi??



Aduh... Duh...Duh...Duh!!

Retak sudah hatimu, hatiku...

Tidak, katamu..

Kau bikin berpuing satuan hatimu sendiri...

Tumbuh, merekah, pecah...

Melankolis, Narsistik, Egosentris...



Melankolis, sendu hati tak berpuisi... Namun menangis jua

Buat apa, tanyamu...

Buat apa kau hingga tak makan, tak tidur, tak mengajar murid - muridmu?

Buat lelaki yang tak enggan mengajakmu SMS, Chatting, telepon dan Khalwat Multidimensi itu??

Itukah makna keshalihan bagimu?



Buat apa kau tak jama'ah ke masjid, tak ngaji, tak memikirkan ummat?

Buat wanita yang tak enggan bermanja di tengah malam itu?

Apakah itu telah begitu menyejukkan pengetahuan Dien - mu??





Aduh... Duh...Duh...Duh!!

Retak sudah hatimu, hatiku...

Tidak, katamu..

Kau bikin berpuing satuan hatimu sendiri...

Tumbuh, merekah, pecah...

Melankolis, Narsistik, Egosentris...



Narsistik, merasa diri paling menderita.... paling merana

Buka matamu... Ingatlah sejarah cinta paling mencengangkan!!

Sanggupkah kau diuji layaknya Adam dan Hawa yang terpisah ratusan tahun lamanya di belahan bumi yang berbeda??

Toh, akhirnya mereka bersatu dan di Ridhai - Nya

Adakah Cinta paling menyejukkan selain Rahmat Allah pada kita????





Aduh... Duh...Duh...Duh!!

Retak sudah hatimu, hatiku...

Tidak, katamu..

Kau bikin berpuing satuan hatimu sendiri...

Tumbuh, merekah, pecah...

Melankolis, Narsistik, Egosentris...



Egosentris, menterjemahkan segala hikmah kehidupan dari subyektifitas nafsu dan insting

Bukan kepekaan netralitas nalar logikamu

Tak ada yang memaksamu masuk ke dalam lingkaran dakwah ini...

Kalian, tampak peyot di depan yang berjenggot... Tetapi gemulai di hadapan sekelas Justin Bieber

Sama saja, para ikhwannya tampak perkasa di depan para jilbaber... tetapi lemah di hadapan sekelas Miyabi!!!



Tapi, ini masalah komitmen, kataku...

Aku tak peduli sejauh mana syetan membelenggu langkahmu menjadi mujahid atau mujahidah...

Akankah perasaaan mendayu - dayu itu takkan sirna?







Selamanya, Patologi hati adalah penyakit kambuhan para penjaga hati di setiap generasi...





(Monolog Hati Seorang Kakak)

Ikhwan dan Akhwat bukan atribut sepihak....Bukan gelar semu yang berbuah kebanggaan

Ianya berat, bila masih ada terjal nafsu duniawi

Ianya lembut, redup, harum... Bila berbekal ketakwaan



Dibuat Di Blitar, 24 September 2010 oleh Najmatul Jannah

Senyum Tulus Fruity

Selamat datang !

Engkau telah memasuki duniaku yang penuh keceriaan busa bening berlensa pelangi, gemericik aliran air jernih mengalun merdu dan suara putaran lembut yang khas menyapa.

Oh, aku lupa, satu lagi... Kehangatan itu! Yah... Kehangatan yang selalu dinantikan kain - kain itu... Memang, sebagian besar dari kita sangat akrab dengan matahari... Kita, dedaunan, para fauna... Tetapi di sini, ada pula kehangatan yang hampir mendekati mentari.. Yah, setidaknya tatkala hujan... Mereka menyebutnya, Sang Pengering...

Nah, sudah bisa menebak kan? Iya, duniaku ini adalah dunia jasa binatu pakaian. Mereka yang berada jauh di seberang sih menyebut dunia ini sebagai 'Laundry'. Kamu bisa menyebut ini sebagai dunia paling keren, bersih, sekaligus wangi... Hehehe... Ini menurutku loh...

Beberapa bulan ini, sejak Pak Anas, pemilik Binatu Segar Ceria tempatku bernaung menciptakanku, kenyamanan mulai kurasakan. Betapa tidak? Seperti di awal ceritaku, dunia binatu pakaian layaknya film kartun penuh warna dan keceriaan, masih ditambah keharuman aneka rupa lagi...

Dan aku termasuk di dalamnya...

Ups! Dari tadi aku belum memperkenalkan diri ya! Maaf, keasyikan cerita sih.. Hehehe... Namaku Fruity Floral, teman - teman di sini sering memanggil nama depanku saja.

Yup! Kamu benar! Aku adalah satu dari tujuh macam pengharum, sebagai proses akhir perawatan pakaian - pakaian itu. Aromaku adalah perpaduan antara buah - buahan segar dan wewangian bunga. Sebenarnya, kata Pak Anas, jasa binatu layaknya salon perawatan khusus bagi kain baju, jas, gaun, boneka, korden maupun permadani kesayangan para manusia. Terus terang, mendengarnya dari Pak Anas, membuatku bangga... Hehehe...




Selain aku, ada enam macam pengharum lainnya. Ada Snappy yang kuat dan penuh semangat. Exotic yang berani. Blue Ocean yang misterius dan tak banyak kata. Lavender yang bersahabat. Melody nan ceria, serta Apple yang selalu mengira aku adalah saudara kembarnya!

Dunia binatu adalah dunia penuh warna, keceriaan, lensa bening busa penuh pelangi serta kehangatan. Ini berkat mesin - mesin itu. Pak Anas sering menyebut mereka sebagai Perawat Keren di salon miliknya... Salon pakaian maksudku hehehe...


Aku sering menyapa mereka, para Tuan Mesin Cuci yang gagah namun bersuara lembut dan Nyonya Pengering yang penyendiri. Kami memang seruangan, jadi kerap berbincang hangat.

Pak Anas membersihkan dan merawat mereka, para Tuan Mesin Cuci itu hampir tiap hari. Dari merekalah, busa bening berlensa pelangi itu berasal.

Ada tiga mesin cuci di Segar Ceria. Tuan Hijau yang paling tua, karena dia adalah pemberian Ibunda Pak Anas. Barang warisan, dia menyebutnya. Tuan Hijau adalah mesin cuci yang masih menggunakan pemutar tradisional dan manual. Air bilasan mengalir jika kenop diputar pada tulisan Wash Rinse, artinya Bilas dan Cuci. Begitupun saat pembuangan air bilasan pertama untuk bilasan akhir, kamu harus memutar kenop itu lagi ke arah tulisan Drain, artinya pengeringan air atau semacamnya. Tuan Hijau memiliki tempat terpisah untuk mencuci dan memeras pakaian yang telah dicuci.




Benar - benar berbeda dengan Tuan Merah dan Tuan Putih yang lebih modern. Mereka adalah mesin cuci generasi terbaru, lebih otomatis dan canggih. Proses pencucian, pembilasan dan pemerasan kain bisa dilakukan dengan sekali pencet tombol saja. Bahkan mereka bisa bernyanyi, sebelum dan sesudah mencuci pakaian - pakaian itu. Yang membedakan keduanya hanyalah letak pintunya saja. Tuan Merah berpintu atas, sedangkan Tuan Putih melahap baju - baju itu seperti para manusia, hehehe....

Nah, jika cuaca sedang cerah, Pak Anas dan para karyawannya akan menggunakan jasa matahari untuk menjemur kain - kain itu. Namun, jika cuaca mendung, mereka biasanya mulai meminta bantuan Nyonya Pengering. Eits! Meskipun dia bisa mengeringkan kain - kain basah itu hanya dalam waktu kurang dari 2 jam saja,tapi Nyonya Pengering sangat pemurung dan gemar menyendiri. Ini terbukti, kala Nabila, putri semata wayang Pak Anas dan Bu Ningrum mendekat, sang ayah langsung mengangkat balita imut itu.

"Nabila sayang, jangan dekat - dekat sama mesin satu ini yah. Lihat kan, selang besar keperakan itu? Biar hangat, kalau kena kaki langsung bisa membuatmu lemas loh, Nak. Bu, tolong jaga putri kita, mesin ini memiliki daya setrum yang tinggi", ujar Pak Anas lembut mengingatkan istri dan anaknya.


Setelah proses pengeringan usai, para karyawan Segar Ceria yang ramah mulai memeriksa kelengkapan pakaian tiap pelanggan. Pemilahan barang - barang yang tertinggal di saku baju maupun celana telah dilakukan sebelum proses cuci. Pemeriksaan ini lebih kepada pencocokan jumlah pakaian yang dititipkan pelanggan dengan daftar barang di tiap nota. Kemudian, Mbak Ika dengan lembut menyetrika, menumpuk dan mengepak mereka, kain - kain itu ke dalam sebuah plastik bening, hingga ditimbang ulang seperti ketika barang pertama kali datang.

Peran kami, para pengharum, ada pada saat proses setrika itu. Biasanya, Mbak Ika ataupun para karyawan lain memanggil nama kami masing - masing penuh keceriaan. "Snappy, ayo... Ini saatnya kamu bertugas... Harumkanlah kain - kain dan boneka itu, Snappy", kami pun menyambut panggilan itu dengan penuh kebahagiaan. Sekali lagi, karena kami bangga bisa merawat pakaian - pakaian manusia. Kami bangga bisa bermanfaat bagi mereka.


===000OOOO000===

Beberapa hari ini, aku melihat Melody tak ceria seperti biasanya. Waktu itu, tinggal kami berenam saja yang ada di ruangan produksi, bersama para mesin.

"Ada apa, Melody? Kenapa, cairanmu berbusa seperti itu? Hari ini, aku tak mendengar nyanyian merdumu seperti biasa?". Tuan Hijau menyahut, "Pasti gara - gara ulah Snappy lagi".

"Ada apa dengan Snappy, Tuan?", tanyaku lagi. Tuan Hijau tak menjawab hingga dia mengeluarkan air bilasan pertamanya. Itupun agak lama, karena menunggu Pak Anas pulang dari masjid untuk sholat Dzuhur berjama'ah. Maka para pengharumlah yang berebut mencurahkan semuanya.

"Snappy sombong!", ujar Exotic sambil menahan marah. Kemarahan tak baik bagi kami, para pengharum, itu bisa merusak aroma kami. "Dia mulai lupa diri! Dia menganggap bahwa dirinya yang paling berjasa, paling diandalkan!", kini giliran Lavender yang bersuara. "Tidak, Snappy benar... Dia memang pengharum utama di Segar Ceria. Aromanya yang paling awet di antara kita bertujuh", ujar Melody penuh kemurungan.

Para pengharum itu tak salah. Snappy memang pengharum yang paling sering digunakan untuk merawat pakaian dan kain - kain pelanggan Segar Ceria. Aroma Snappy paling kuat, bisa tahan hingga hampir dua minggu lamanya. Sedangkan, kami, enam pengharum lainnya, sudah bagus jika kami tahan hingga 10 hari. Namun, bukan berarti Snappy lantas lupa diri dan mengejek teman - temannya, kan?

"Barusan, kala kamu bertugas dan Snappy masih di sini, dia mengolok - olok Melody. Dia bilang, .... Ah tak tega aku, ... Intinya, Snappy memamerkan kalau Pak Anas lebih menyayangi dia daripada kita", Blue Ocean yang pendiam tiba - tiba buka suara.

Aku lantas menanyai Tuan Merah, "Pernahkah di antara mesin seperti ini, Tuan?". "Hahaha... Tidak, tentu saja tidak... Sebenarnya, tidak ada kebanggaan atau semacamnya jika kami digunakan dalam tugas ini. Kecuali, jika semuanya bisa merasakan nikmatnya bermanfaat bagi manusia. Bisa repot jadinya, kalau cuma salah satu mesin cuci saja yang digunakan untuk mencuci kain - kain itu. Siapa yang mau lelah menanggung berkilo - kilo baju maupun boneka, belum termasuk selimut, sendirian saja? Namun, rasa puas itu hadir tatkala kami berhasil bekerjasama menuntaskan pekerjaan. Tak ada mesin favorit ataupun usang.. Hahaha... Bukan maksudku menyindirmu, Hijau... Yang terpenting bagi kami adalah kerjasama dan persahabatan". Nampaknya, Tuan Hijau dan Tuan Putih sepakat akan hal ini.

Bahkan, Nyonya Pengering menambahkan, "Seandainya saja bisa, aku juga ingin bertambah satu lagi pengering di ruangan ini. Pasti senang rasanya memiliki banyak sahabat. Lihat, aku iri dengan setrika. Mereka berpasangan dan berdendang sepanjang siang menghaluskan baju - baju itu".

Agaknya, kata - kata para mesin itu, berhasil menumbuhkan semangat kami. Melody kembali ceria, meskipun tidak menyembuhkan sakit hatinya hehehe... Baru tahu kan kalau pengharum punya hati juga? "Mel, benar kata mereka... Jika ketulusan dan keceriaan dapat menambah keharuman dan aroma khas kita, maka teruslah bersemangat melakukan tugas ini... Dengan, atau tanpa pujian. Meski juga kadang, tak diakui keberadaannya. Lagipula, belum tentu kan kalau Pak Anas setega itu pada kita?", pungkasku menghibur Melody.

===000OOOO000===

Makin hari, para pelanggan di Segar Ceria makin bertambah. Pak Anas sukses besar dengan slogan 'layanan sehari selesai' itu. Tiap hari, rata - rata Segar Ceria merawat hingga 100 kilogram pakaian! Bisa ditebak, Snappy makin besar kepala juga. Dia begitu bangga dengan tingkat permintaan yang tinggi untuk mengharumkan pakaian itu.

Hingga suatu malam....

"Nabila sudah tidur, Bu?", "Sudah Ayah...". Malam hari adalah saat istirahat pula bagi kami, para mesin dan pengharum di Segar Ceria. Biasanya, Pak Anas memeriksa kondisi para mesin dan pengharum. Kemarin Tuan Hijau baru keluar dari reparasi mesin cuci, dia lumayan sehat sekarang.

"Snappy habis lagi, Yah?", tanya Bu Ningrum lembut. "Iya, Bu.... Ini aku sedang membuat racikannya lagi. Besok orang dari Rumah Sakit mau datang nganter 50 kilogram sprei pasien di ruang rawat. Alhamdulillah, persediaan kita masih banyak".

"Yah, kenapa kok dua pengharum ini jarang digunakan?", Bu Ningrum bertanya lagi. Wanita itu memutar - mutar kami berdua, Melody dan aku. "Oh itu, justru karena mereka pengharum yang paling mahal di sini Bu... Meskipun aromanya paling lembut dan digemari pada industri parfum di luaran sana, tapi bahan dasarnya lumayan langka dan biayanya tinggi. Makanya, aku sering menawarkan Snappy pada para pelanggan. Memang, Snappy paling awet, tetapi bahan dasarnya lebih murah. Nah, kalau Melody dan Fruity Floral, biasanya lewat permintaan khusus saja, baru digunakan. Bukan karena mereka tak berguna, justru karena mereka mahal dan susah didapat, aku menghematnya".

Bu Ningrum tersenyum. "Iya ya, Yah? Pantesan, sebenarnya, aku juga lebih suka kedua parfum ini, ... Oh ya, Apple juga, aku suka... Tapi, karena Segar Ceria jarang memakainya, aku jadi ragu meminta Ayah pakai mereka buat Sholat Jum'at". Pak Anas balik tersenyum, "Baiklah, besok akan kupakai Apple buat ke masjid".

Malam itu, jadi malam terindah bagi kami. Apalagi kala Snappy tertunduk lesu dan berkata, "Maafkan aku teman - teman. Ternyata memang benar, tidak ada dari kita yang paling penting dan besar jasanya. Aku keliru. Maafkan aku, ya..."


Blitar, 15 Maret 2011
Najmatul Jannah

Karya ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Cerita Anak Sarikata.com Tahun 2011 bertemakan Teknologi Tepat Guna dan Bermanfaat Bagi Kehidupan Sehari - hari..
link http://sarikata.com/lomba-menulis-cerita-anak-dongeng-sarikata-com-2011
 
javascript:void(0)